LDR
Kadang kita tak pernah tahu seberapa jauh
jarak yang telah memisahkan antara kamu dan aku, tapi awalnya aku hanya
berpikir bahwa jarak takkan menjadi hambatan hubungan kita namun sekarang jarak
itu semakin terukur, terlihat dengan mata kepala dan terasa semakin jauh.
Akankah semua yang sudah kita bangun untuk waktu yang lama akan segera hilang
bersama dengan rapuhnya jarak itu?
Jarak merupakan sebuah tembok tanpa
batas, mungkin dulu aku senang saat kita memulai hubungan jarak jauh aku merasa
saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai kepercayaan juga kesetiaan, tapi
apalah arti semua itu jika kita tak bisa jujur terhadap diri sendiri? Dengan
aku bilang tak apa apa saat kau menanyakan kabarku, sebenarnya itu ada apa apa.
Terkadang berlilit masalah yang kumiliki
namun saat aku butuh seseorang untuk ada disampingku, aku selalu teringat
padamu. Sesekali aku ingin kau tahu masalahku, namun aku juga tak ingin
menyusahkanmu atau bahkan merepotkanmu. Itu saja tak lebih, karena aku tak mau
kau datang hanya untuk mengunjungiku dan kembali pulang, aku tahu itu adalah
hal yang melelahkan.
Aku mencoba berbagi dengan sesama teman,
tapi tak satupun dari mereka yang mengerti. Entah apakah perasaanku yang sudah
tak peka dengan kepeduliannya atau mereka memang tak peduli kepadaku? Entahlah.
Dari sekian banyak halangan antara aku
dengannya hanya ada satu yang dapat membuat pertahanan itu hancur, yaitu
kebohongan dan ketidakpercayaan yang semakin lama semakin meragukan. Bukan aku
meragukannya namun aku meragukan kodrat manusia yang sangat mudah tergoda oleh
yang lain. Aku hanya takut ia pergi dengan yang lain, aku takut dia mulai
berkata tak jujur kepadaku, dan aku takuuuut sekali dia pergi meninggalkanku.
Berkali – kali kucoba untuk mengerti,
untuk mulai memahami namun jarakkah yang membuatku semakin tak mengenal
dirinya? Atau memang benar ada orang lain diantara kami?
Sekarang kau semakin pergi, menghilang
dari hidupku walau kutahu kamu masih ada disitu tapi aku merasa itu bukan
dirimu. Ingatlah perasaan seorang wanita itu sunggu peka. Hanya saja ia perlu
beberapa kali untuk meyakinkan perasaannya itu.
Cintaku, mungkin terkadang kau suka
bilang aku egois tapi bukan itu masalahnya, alasaannya cukup simple hanya
karena aku tak ingin kau pergi itu saja. Dan mungkin kau tak mengerti itu.
Long distance relationship, itulah nama
lain hubungan kita namun nama itu takkan ada artinya tanpa komunikasi yang
efektif. Bukan berarti setiap waktu harus selalu terhubung, tidak. Hanya saja
kamunikasi itu tahu dan mengerti saat mana aku butuh dirimu dan saat mana aku
butuh sendiri dan bergabung dengan teman – temanku. Itulah yang sulit.
Tak jarang, mereka yang sering ribut akan
hal itu sebenarnya hanya karena komunikasi. Seperti, sedang kumpul dengan teman
tapi sibuk di teleponin, sedang ngerjain tugas bersama sibuk di smsin. Jika tak
ada balasan, mereka selalu marah marah dan sibuk beradu argumen. Jika sudah
seperti itu, apakah hubungan itu masih dikatakan sehat? Memang setiap hubungan
pasti ada permasalahan tapi bukan itu masalahnya.
Sama seperti kamu dan aku saat ini, aku
melihat kau sudah jenuh denganku dan sepertinya kita belum saling mengerti satu
sama lain. Hubungan jarak jauh itu hanya perlu mengerti dan memahami sifat,
sikap dan kesibukan yang sama kita lakukan. Namun pengertian itu telah berubah
menjadi monster yang selalu ingin mengatur kembali kehidupanku. Maafkan aku
sayang jika akhirnya aku menyerah untuk hal yang satu ini. Dan aku sudah
putuskan untuk lebih melepaskanmu dibanding aku harus kehilangan masa masa
remajaku. Jika memang suatu saat kita akan berjodoh aku yakin jarak itu bukan
lagi pernghalang bagi hubungan kita.
Note: sebenarnya cerita ini, terinspirasi dari teman yang mulai terbatas oleh sebuah hubungan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar