Rinandhi
Namanya Risti
Arindra Kusumawati, seorang wanita yang kutaksir berusia dua puluh tiga tahun
yang tinggal disebuah rumah warga didaerahku yaitu Liwa, Lampung Barat. Yang
baru kuketahui dari mana ia berasal ketika aku bertanya pada ayahku.
Aku Rinandhi
Darma Perkasa, orang-orang disekitarku memanggilku Nandhi. Wanita yang baru
kutahu namanya itu seringkali datang ke kedai kopi-ku, hampir tiga kali sehari
ia kesini, meminum kopi seraya duduk menikmati pandangan sekitarnya, menutup
mata, menghirup nafas dalam dan menghembuskan kembali. Seringkali seperti itu.
Atau dia akan
datang bersama laptopnya, memesan satu sampai dua gelas kopi, setelah tugas
mengetiknya selesai dia akan membayar lalu pergi. Tapi tak jarang kudapati
Ayahku berbicara banyak padanya, bercerita asik dan pernah kudapati Ayahku
berbicara selama hampir satu jam, aku penasaran apa yang diobrolkan mereka.
“Yah, hm...
pelanggan ayah yang perempuan itu tinggal dimana sih yah?” aku penasaran
membuka obrolan tengah malam kami, ketika ayah masih memilah biji kopinya.
“Pelanggan ayah
yang mana Nan? Pelanggan ayah kan banyak, Nak.” Aku heran aku sudah besar,
sudah dewasa, tapi kenapa ketika berbicara dengan Ayah aku masih seperti anak
yang baru saja menginjak SMP.
“Hm... yang
sering sekali bicara dengan ayah, yah. Yang ngobrolnya lama sekali.”
Ayah
mengingat-ingat pelanggannya yang perempuan, aku yakin tak sulit menemukan
pelanggan perempuan yang banyak bicara pada Ayah.
“Oh... Ayah
ingat. Itu yang namanya Risti ya? Dia dari Jakarta, datang kesini sedang
meliput tentang kopi, tadinya anak itu mau minta tinggal disini katanya dia
akan menyewa kamar kita, tapi karena tak banyak kamar yang kita punya dan
berhubung kamu tak suka tidur bareng Ayah, ya ayah tolak permohonannya.” Ayah
berhenti dari kegiatan memilah kopinya, berbicara seraya menatapku.
“Harusnya ayah
bilang sama Nandhi yah, nandhi mau kok tidur dengan ayah.” Kataku menjelaskan
tetapi kemudian disambut tawa oleh Ayahku. “Ayah lupa kamu sudah besar sudah
dua puluh lima tahun, seharusnya ayah biarkan dia disini supaya kamu dapat
mengambil hatinya.”
Eh, Ayah tahu
maksudku?
“Jelas ayah
tahu, ayah kan juga pernah muda. Oh ya bagaimana dengan usahamu di Jakarta?”
Omong-omong aku
juga punya kedai kopi yang sama seperti Ayah di Jakarta sebagai usaha
sampinganku sedangkan pekerjaanku, aku bekerja disalah satu perusahaan design
interior di kota yang sama. Saat ini aku sedang rindu kampung halaman dan
mengambil cuti selama satu minggu.
“Alhamdulillah
Yah lancar, tiga hari lagi Nandhi kembali ke Jakarta yah, nanti Nandhi bawa
bubuk kopi ya yah. Ayah tidur saja, sudah malam biar Nandhi yang bereskan
sisanya.”
________
Keesokan
harinya seperti biasa Ayah melakukan kunjungan rutinnya setiap pagi di kebun
kopi, pukul tujuh, kutemukan ayah disana namun tidak sendiri tetapi dengan
wanita itu.
Aku diam
mematung melihat mereka yang sedang berbincang ringan disertai sambut tawa sang
wanita, ayah melihatku dan menyuruhku mendekat, “Nah, nak Risti ini anak
bapak...” belum selesai ayah mengenalkanku wanita itu menyelanya, “Nandhi kan
ya pak?” Ayahku hanya balas mengangguk.
Eh ayah bicara
apa saja tentangku?
“Nan kamu
temani nak Risti jalan-jalan kebun ya.. Ayah mau siap-siap buka kedai, biar
gantian, nanti bosan nak Risti jika yang dilihat hanya orang tua ini.” Ayahku
terkekeh dan meninggalkan kami berdua.
“Oh ya kita
belum kenalan, nama saya Risti.” Wanita itu mengukurkan tangannya lebih dulu
sambil kuajak ia berkeliling kebun.
Aku tak enak
hati karena harus wanita ini yang lebih dulu menyapaku, “Nandhi, tadi kan sudah
sama Ayah.” Kataku tersenyum.
“Tadi kan baru
diperkenalkan belum kenalannya.” Tambahnya tersenyum. Senyuman manis yang
menggodaku. Rambutnya yang biasa sebahu, lurus dan hitam legam itu kini
dikuncir, dan bola mata bulat yang juga sama hitamnya disertai bulu mata
lentiknya menatap kebun kopi kami yang luas sesekali menoleh kearahku.
“Dengar dari
ayah katanya dari Jakarta ya?” aku memulai percakapan diantara kami. Ia
mengangguk sesekali mengambil gambar kopi yang belum matang.
“Saya juga
dengar dari Ayah kamu katanya kamu juga kerja dan buka kedai juga di Jakarta?
Saya boleh ambil gambar kamu dengan pohon kopi itu?” pintanya menunjuk salah
satu pohon yang ada disebelahku.
“Oh.. iya,
boleh. Saya memang kerja di design interior di Jakarta dan kedai kopi saya ada
di Jakarta Selatan, kalau kamu tidak keberatan mampirlah ke kedai saya
kapan-kapan, saya jamin rasanya sama seperti yang ayah buat.” Aku meyakinkan
diriku untuk tak gugup ketika berbicara didepannya.
“Hm... menarik.
Kita bisa atur setelah di Jakarta. Kalau saya boleh tahu, gimana perjalanan
kebun kopi ayahmu sampai saat ini?”
Aku baru akan
bercerita ketika Risti hampir saja masuk kedalam lubang yang ada didepannya,
dengan sigap aku menarik tubuhnya hingga tak ada jarak diantara kami, hingga
tubuhnya bisa kurasakan bersentuhan dengan tubuhku. Membuat jantungku tak
sesuai irama, mataku menatap dalam matanya dan kudapati ia pun kaget bukan
kepalang.
Aku melepaskan
lebih dulu tanganku, “Maaf, didepan kamu ada lubang.” Aku berangsur membuat
jarak lagi diantara kami.
“Terima
kasih...” Aku mendengar kelegaan dari ucapannya. Lubangnya memang tak besar
tapi jika ia terjerembab mungkin kakinya akan sedikit keseleo.
“Eh, perlu kita
lanjutkan?” Sejujurnya aku tak berniat melanjutkan ceritaku, tapi aku berniat
melanjutkan kisah ku dan dia.
Risti
Astaga aku
kaget setengah mati merasakan tubuhku ditarik olehnya, aku kaget merasakan
tubuhku yang bersentuhan dengan tubuhnya, dan aku kaget dengan ritme jantungku
ketika ia mendekapku.
Sadarlah,
sadarlah Risti. Apa kamu kesini cari jodoh?
Aku segera
membuang perasaan malu sekaligus canggungku yang sejak tadi kutahan, “Jadi dulu
kebun ini bukan milik ayahmu?” Aku melepaskan pertanyaan ditengah-tengah
ceritanya. Sesekali kulirik ia disampingku, kurasakan degup jantungku yang
masih tak beraturan.
Lelaki itu
menggeleng, ah baiklah sebut namanya Nandhi. “Ayah membelinya dari pemilik
aslinya ketika si pemilik sudah meninggal dan anaknya bermaksud menjualnya.
Karena ayah hidup dari kebun ini, ayah membelinya walau saat itu kondisi
ekonomi kami tak memungkinkan.”
“Sebegitu
cintanya ayahmu pada kebun kopi ini?” Aku merekam percakapan kami, ralat yang kurekam
bukan hanya suaranya tapi juga gambarnya, jadilah aku merekam video ini.
Tenang, aku sudah izin pada orangnya.
Dia mengangguk,
“Sebenarnya ayah tak suka jika aku menceritakan kisah ini pada orang lain.”
Wajahnya serius, melihat wajah itu terus menerus membuatku khawatir dan cemas
pada diriku sendiri.
“Boleh kutahu
kenapa?” tanyaku hati-hati.
Dia menggeleng,
“Katakanlah Ayah membelinya dengan kerja kerasnya.” Aku tak ingin memaksanya
untuk bercerita, lagipula sebenarnya laporan yang kubuat sudah selesai dan
sudah kukirim pada tim-ku semalam. Wawancara yang kulakukan dengan Pak Wiro,
sudah lebih dari cukup.
Ada jeda
beberapa menit diantara kami membuat suasana canggung semakin menjadi. Rasanya
tak tahu aku harus apa pada waktu yang kosong diantara kami.
“Jadi, kamu
bekerja di televisi swasta atau koran nasional?” Dia menyuruhku untuk duduk di
pinggir kebun, dari sana dapat kulihat pemandangan yang tak pernah kunikmati.
Hamparan kebun kopi hijau ditambah suasana pagi yang segar.
“Koran. Aku
bekerja di koran nasional.” Aku masih sibuk memotret pemandangan dari sini.
“Sering
bepergian seperti ini? Sini kameramu. Biar aku bantu ambil gambarmu disini,
rugi jika kesini tak berfoto sendiri.”
“Sudah biasa,
aku pernah ke Medan tempat danau toba berada untuk liputan seorang diri, walau
terkadang aku butuh partner. Terima kasih.” Aku berikan kameraku pada tangannya
yang sedang meminta.
Setelah
mendapat beberapa foto sendiri, aku rasa dia mengambil terlalu banyak fotoku,
oke bukan dia tapi Nandhi. Nandhi memiliki selera fotografi yang bagus, hasil
jepretannya sungguh tak mengecewakan malah aku iri melihat hasil jepretannya
lebih bagus dari punyaku.
“Kenapa suka
kopi? Aku melihatmu dikedai sehari hampir tiga kali kamu kembali ke kedai kami,
seperti orang makan tiga kali sehari.” Nandhi tersenyum hangat kearahku.
Memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.
Eh, dia juga
memperhatikanku? Aku kira aku ke kedai itu untuk meperhatikannya, tapi
mendengar penyataannya barusan, itu artinya bukan hanya aku yang tertarik kan?
Tunggu, sejak
kapan aku jadi seperti ini? Sebelumnya aku selalu bekerja profesional pada
setiap liputanku, oke aku sudah profesional, buktinya laporanku sudah aku
berikan pada tim-ku. Sekarang tak apa kan waktunya tidak profesional? Toh besok
aku sudah harus kembali ke jakarta. Jika memikirkan hal itu aku jadi berpikir
kembali, apa artinya aku dan dia belum jodoh?
“Rista...”
Nandhi membuyarkan lamunanku. “Sedang berpikir apa?” Tanyanya yang kutangkap dengan
nada sedikit penasaran.
“Sedang
berpikir besok sudah harus kembali ke Jakarta, kembali pada rutinitas yang
melelahkan. Aku akan merindukan tempat ini, merindukan kebun kopi ini,
merindukan dataran tinggi Liwa, merindukan suasana damai ditempat ini...”
Dan
merindukanmu. Yang tak dapat terucap dari bibirku.
“Kalau begitu,
aku juga akan kembali besok kita bisa berangkat bersama. Tapi kamu belum jawab
pertanyaanku, kenapa suka kopi?”
“Sejujurnya aku
lebih sering minum kopi seperti Latte, Machiatto atau Cappuccino. Tapi setelah
aku mencicip kopi robusta yang dibuat ayahmu, aku jatuh cinta, pada aromanya,
pada rasanya yang berbeda dan pada proses yang dilakukan dengan hati. Membuat
rasanya lebih nikmat, hangat, tak pahit tapi ada rasa manis yang khas. Mungkin
itu sebab nya aku suka kopi disini, rasanya aku harus mampir ke kedai mu, untuk
memuaskan keinginan minum kopiku yang rasanya sama seperti disini.”
Tak terasa hari
sudah siang, matahari sudah nampak sinarnya, tapi udara di dataran masih
sedikit memberi rasa dingin yang menyegarkan. Nandhi mengajakku menyingkir dari
pinggir perkebunan dan duduk ditengah-tengah rindangnya kebun kopi.
Duduk ditengah
pohon yang jarang kutemui, membuat indra penciumanku terangsang, aroma dari
pepohonan dan tanah yang basah oleh embun terasa sampai ke hidungku, memberikan
sensasi tersendiri untukku.
Rinandhi
“Aku akan izin
dengan ayah untuk pulang besok. Aku akan temani kamu sampai Jakarta.” Aku
mengucapkan mantap ketika kegiatan berkeliling kami selesai.
“Sudah
kelilingnya Nak Risti?” Ayah menyambut hangat tamunya dengan senyum yang tiada
putus menggodaku. Walau hanya sesekali melirikku, aku kenal bagaimana tabiatnya
itu.
Kuantar Risti
ke rumah Pak Risto, rumah pak RT-ku tempatnya menginap. Sialnya, aku harus
bertemu Refana, anak Pak Risto yang gencar mengejarku sejak dulu. Padahal
umurnya sudah menginjak usia dua puluhan tapi tingkahnya masih saja seperti
anak-anak.
“Mas Nandhi,
tumben kesini. Cari Refa ya? Refa nyari mas Nandhi dari dulu tapi kata Bapak,
mas pindah ke Jakarta. Mas gak kangen sama Refa?” Masih sama seperti dulu,
masih nerocos setiap kali aku datang. Aku merinding melihat tingkahnya yang
semakin menjadi, aku umpatkan tubuh besar ku dibelakang Risti, walau tak
menutupi seluruh bagian tubuhku. Aku seperti anak kecil yang takut dengan
ondel-ondel sembari memegang tangan ibuku, itu juga yang kulakukan pada Risti.
Risti tertawa
tak henti-henti, seraya menggeser tubuhnya kanan-kiri kanan-kiri yang mengikuti
gerak tubuhku menarik tangannya, tawanya terhenti ketika ia mungkin sudah
lelah.
“Refa, sudah
ya.. jangan dikejar lagi, dia udah ketakutan sama kamu. Kamu agresif banget sih
Re, nanti aku ajarin cara melakukan pendekatan dengan lelaki.” Aku tahu, itu
hanya untuk menghentikan Refa tapi kenapa aku seolah-olah masuk ke perangkap
pendekatannya? Ah biarlah, kalau memang begitu, artinya tugas pendekatan
dengannya lebih mudah.
“Mbak bener
ya?” Tanya Refa polos. Refa seperti anak normal lainnya, tapi entah karena apa
Ia memang terobsesi berat denganku sejak dulu. Padahal tingkahnya manis kalau
tidak didekatku.
Risti
mengangguk, “Mbak, Refa boleh gak pegang mas Nandhi sebentar?” Risti menoleh
kearahku,
“Apa?” Hanya itu yang mampu kuucapkan, tak lama aku mengerti maksud
ia menoleh padaku. Aku menggeleng keras.
“Refa, mas udah
punya pacar, udah lupain aja ya, kamu mending sama si Ero yang suka sama kamu
dulu itu.” dengan tubuh masih dibelakang Risti, aku mengucapkannya sekali nafas
seperti orang yang mau ijab kabul.
“Siapa? Ko mas
baru bilang sama Refa? Yaudah deh kalo gitu Refa nyerah.”
Hah semudah itu
membuatnya menyerah, tau gitu dari dulu aku bilang saja sudah punya pacar kalau
perlu tunangan.
Segera setelah
acara Refa, aku pamit diri dengan Pak RT dan berpesan sebelum pergi, “Pokoknya
besok kamu pulang sama saya. Saya sudah pesan tiket travel kita.” Belum sempat
Risti angkat bicara ku balikkan tubuhku pulang. Tunggu ada yang lupa, aku
mengambil handphone dari saku celanaku, “Aku minta nomor telepon mu.” Ku
serahkan handphoneku di tangannya.
“Nomorku?” Ia
meyakinkan apakah mungkin dia salah dengar. Aku mengangguk mantap. Diketiknya
nomor berjumlah dua belas digit angka dan pamit pergi.
Risti
Eh, kenapa dia
ingi mengantarku? Kenapa aku jadi bersemangat seperti ini? Lelaki itu, apakah
juga sama tertariknya denganku? Aku senyum-senyum menyadari tingkah kekanakannya tadi sore saat
dia mengantarku kembali kerumah Pak Risto.
“Mbak ko wajah
mba merah? Mbak sakit?” Refa meraba-raba dahiku. “Eh, mbak aku tahu ini bukan
sakit, tapi gejala jatuh cinta.” Ujarnya terkikik senang.
Aku meraba-raba
wajahku, masa sih wajahku merah. “Kamu serius ga si Re mengenai yang tadi
sore?” aku penasaran juga.
“Aku bohong
mba, aku sudah besar untuk apa aku masih seperti itu dengan Mas Nandhi, itukan
hanya masa lalu saat aku masih remaja. Lagipula, aku dan Mas Ero memang sudah
menjalin hubungan, empat bulan lagi aku akan menikah dengan Mas Ero.” Entah
kenapa aku lega mendengarnya, mendengar pernyataannya.
“Ya ampuun...
kamu jadi ngerjain dia Re? Iseng banget ya? Tapi belum ada yang tahu ya kamu
mau nikah dengan Ero?” Aku belum tahu yang mana yang namanya Ero, tapi dari
yang kudengar dia seusia dengan Nandhi dan juga kerja di Ibukota, setiap
sebulan sekali dia akan pulang ka kampung halamannya.
“Iya mba, haha
lucu ya mas Nandhi masih saja seperti itu sejak dia SMA.” Refa tertawa geli
mengingat masa lalunya dengan Nandhi.
Aku mendengar
getar di handphoneku, sms dari Nandhi.
Ini aku, besok
aku jemput pagi-pagi pukul enam ya. Selamat malam Risti, sampai jumpa besok.
Hatiku hangat
mendengarnya mengucap namaku.
Malam ini, di
ruang keluarga Pak Risto aku pamit karena harus pulang ke Jakarta besok
pagi-pagi, tak lupa kuucapkan terima kasih banyak-ku pada keluarga yang hangat
ini.
“Padahal Ibu
seneng kamu disini, Nak. Refa jadi nggak kesepian.” Ujar Bu Risto sedikit
kecewa.
“Iya, bu.. aku
juga sama. Padahal aku seneng banget punya temen cerita disini.” Refa memelukku
lama.
“Nanti mbak
kasih email dan nomor telepon mbak. Kamu bisa hubungi mbak kapanpun kamu mau.”
Hiburku pada Refa yang sudah seperti adikku sendiri. Sayangnya adikku itu
laki-laki, rasanya tak bisa memeluk dia seperti ini, karena ia sudah tak suka
dipeluk.
____
“Bu, Pak, Re,
saya pamit pulang dulu ya.. Jaga diri baik-baik ya Bu, Pak, Re, sesekali
hubungi saya, saya pasti akan merindukan suasana rumah disini.” Aku sedih juga
harus melepas keluarga ini yang sudah seperti keluarga bagiku selama lima hari
kehadiranku disini.
Kulihat Nandhi
juga pamit pada orang tua Refa tak terkecuali pada Refa. Mungkin semua orang
berpikir, kenapa aku bisa pulang dengan Nandhi, aku juga bingung, tapi kemudian
Nandhi menjelaskan alasannya yang bagiku terlalu biasa pada keluarga ini.
Tak lupa aku pamit
pada Ayahnya Nandhi, Pak Wiro, “Pak, terima kasih banyak ya atas wawancaranya,
atas kehangatannya menyambut saya disini, juga atas kopinya yang nikmat.”
“Tidak terima
kasih atas anak saya?” Tanyanya membuatku bingung. Apa maksudnya?
“Lho jadi Nak
Risti belum tahu, anak saya kenapa ingin mengantar kamu?” Aku menggeleng jelas
tak tahu. “Baiklah kalau begitu biar bapak yang beritahu, anak bapak ini mau
melamarmu pada orang tuamu di rumah..” Aku menoleh pada Nandhi disamping, dia
tak bicara apapun padaku, lagipula kami bahkan baru beberapa hari saling
tertarik. “Bapak, disini melamar kamu secara pribadi, apakah kamu bersedia
menjadi calon menantu bapak?” Aku yakin ini bukan acara talk show, atau apapun
itu kan. Kenapa rasanya seperti aku bermimpi?
Aku senang,
sangat senang bukan kepalang. Apa yang harus dan bisa kukatakan untuk
mengungkapkan senangku atas berita ini? Aku mengangguk pelan dan mantap pada
pertanyaan pak Wiro. “Nah jelas sudah, nak Risti juga mencintai putra bapak.
Sekarang waktunya kamu ya Nak, yang izin sama orang tua nak Risti.” Katanya
menepuk punggung Nandhi.
Mobil travel
kami datang untuk menjemput kami, aku kira hanya ada kami di mobil itu ternyata
ada dua penumpang lain, tak apa tak masalah lagipula apa yang aku pikirkan?
Ingin berdua dengan Nandhi? Buang jauh-jauh pikiran itu Risti.
Beberapa jam
didalam mobil, aku tertidur di sebelah Nandhi, di dadanya yang bidang. Saat aku
terbangun, aku melihatnya menatapku. “Kamu serius dengan keputusan kamu?” Aku
ingin jawabannya sekali lagi. “YA! Jangan pernah ragukan aku Ris.”
“Kamu mau
ngelamar aku pake apa ke Ibu, Bapakku?”
“Pakai Kopi.”
Aku terbangun dari posisiku yang menyender padanya. “Serius?”
“Mana pernah
aku tidak serius Ris? Aku akan melamarmu dengan kopi.” Katanya sekali lagi, tak
berteriak tapi kalau dua orang dibelakang ku tidak tidur mungkin mereka akan
mendengar percakapan kami kecuali pak supir.
“Kalau gitu
biar aku bantu muluskan rencanamu itu.” Kami tertawa bersama dan bahagia
merajai ruang hati kami masing-masing.
Note : #Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com