Sabtu, 18 Februari 2017

Senin siang yang ceria

   Hari senin terasa berlalu sangat lambat bagi Diana yang tak sabar akan pertemuan mereka nanti. Sepanjang bekerja, Diana mendendangkan lagu yang disambut tanda tanya dari temannya. 
"Mood mu bagus sekali, Di." kata Indra sembari lewat dari kubikelnya. 

   "Ya, luar biasa bagusnya, sampai aku tak bisa berhenti bernyanyi." Diana memasang wajah se-sumringah mungkin. 

   "Biar saja, Ndra, daripada kita melihat dia yang terus melamun tak ada gunanya." Timpal Alia. 

   "Yah, ada bagusnya juga sih lo jatuh cinta." Indra kembali meledek.

   "Siapa bilang gue jatuh cinta?" Kini Diana yang kembali bingung. 

   "Jangan lo pikir kami tidak tahu, Di. We know all about you, yang perlu lo katakan hanya ya saja, haha." 

   Diana berpikir, benarkah dirinya jatuh cinta? Dengan Aditya? Orang yang baru saja bertemu dengannya dua kali, dia bahkan tidak tahu apa Adit punya kekasih atau tidak. 
Masih terlalu awal untuk dikatakan cinta, pikirnya. 

   Saat jam istirahat datang, Indra, Alia dan Diana makan bersama di kantor perusahaan yang letaknya di lantai lima gedung pencakar tersebut. 

   "Al, mau ikut gue gak? Ke malang, kita travellingan."

   "Alia doang ya diajak? Jadi gitu ya gue udah ditinggal?" balas Diana. 

   "Ya siapa tahu lo punya rencana akhir bulan, daripada sia-sia ngajak mending gue bawa Alia." didepannya Alia hanya cekikikan.

   "Gue ga punya rencana apa-apa kok. Yaudah kalo gitu gue ikut!" sambil melahap bento yang didepannya.

   "Okeee kalau gitu gue mesti pesen tiketnya dari sekarang, nanti lo pada kirim foto ktp ya ke wasap gue." Indra menyeruput latte nya. 

   Saat makanan didepan mereka sudah habis yang tersisa kini adalah kepulan-kepulan asap dari minuman yang meereka minum, Alia dengan teh hangatnya, Diana dan Indra dengan lattenya masing-masing. 

   "Lo ketemu dia dimana, Di?" Indra kembali menginterogasi. 

   "Siapa?" Diana belum mengerti arah bicara Indra.

   "Ya siapa lagi yang bikin hati lo berbunga, haha." Alia ikut menimpali.

   "Ohhhhhh... Di halte." 

   "Di halte? Gimana ceritanya? Jaman sekarang ya, ketemu dimana aja langsung jatuh cinta." Indra berkata sok bijak yang dibalas Diana dengan mendorong tubuh Indra, "Gue belom sampe taraf itu kali, Ndra." 

   "Are you sure?" dengan mimik wajah yang dimainkannya. "Ya, I'm sure. puas?" 

   "Berarti gue masih ada kesempatan sama lo kan?" 

   Sontak kedua temannya itu sekarang sama-sama mengarahkan pandangnya ke Indra dan berteriak, "Indraaaaaa!"

   "Ya ampuun, kalian ini teriak di kanan dan kiri gue bikin telinga gue bentar lagi bakal budeg tahu gak! Gue bercanda kali guys, gue cuma mau tau reaksi kalian aja, haha."

   "Isssh! Gak lucu!" jawab keduanya sambil memukul lengan kanan dan kiri Indra. 

   Indra hanya tertawa senang dan membuat mereka berhenti memukul, saling pandang satu sama lain dan, "Hahahaha..." mereka tertawa bersama. Sampai bunyi jam dinding di kantin menunjukkan pukul satu. 

   "Waktunya kembali bekerja, yok yok.." Alia berujar mengingatkan. 

   Mereka berjalan bersisian dengan Indra di tengah, yang kembali di komentar Diana. "Jangan gini posisinya gengs, gue aja yang ditengah, kalo Indra ditengah berasa kita berebut dia, ewwwh." Diana mengambil posisi ditengah menggeser Indra ke sebelah kanan. 

Begitulah cerita senin siang di kantornya Diana, entah apa yang terjadi pada senin sorenya, akan diposting selanjutnya. See you!

Senin, 06 Februari 2017

Pertemuan tak terduga

   Selama berminggu-minggu, mereka berharap, merindu juga terkadang menginginkan hari hujan. Tapi sekalipun hujan, takdir belum membawa mereka bertemu. 

   Hari senin yang cerah, aku rasa payung tidak akan berguna lagi. Pikir Diana, maka di letakkan payungnya dimeja kamarnya. Lalu seperti biasa, melewati hari senin yang ramai di ibukota. 

   Semua orang lalu lalang, ramai dan macet sana sini, stasiun kereta sesak oleh penumpang, halte bus tiba-tiba bagai semut yang menunggu makan. 

   "Permisi.. permisi.." ujarnya ketika masuk kedalam bus kota, mengambil tempat sedikit ke belakang, sudah tak ada lagi kursi, jadi dia hanya berdiri di belakang. Ketika bus berhenti, terkadang harus berpegang erat karena kalau tidak bisa terjatuh. 

   Seperti saat itu, ia sedang melamun ketika bus berhenti, mau tak mau ia mengeratkan pegangan tangannya, tapi sayang, dia telat. Dia sudah maju beberapa langkah dari tempat berdiri sebelumnya, yang entah kenapa dia tak jadi menabrak orang didepannya, karena tangan seseorang dari belakang menarik lengannya.  

   Dia lega bukan kepalang, bisa malu sekaligus tidak enak hati jika akhirnya nanti menabrak lalu jatuh. Dia masih belum tahu siapa yang menarik lengannya, dia hanya mengusap dada tanda 'syukurlah'. 

   "Te.." ucapannya berhenti sampai disitu, sampai saat ia menyadari seseorang yang sedari tadi menarik lengannya. 

   "Tidak jadi bicara?" Tanya lelaki itu penuh dengan suara meledek dan juga senyum yang lebar. Ia menyambutnya dengan senyum yang sejak beberapa minggu ditahan, akhirnya, begitu batinnya. 

   "Terima kasih, kita impas ya.." Katanya masih dengan hati yang berbunga.  

   Lelaki itu kembali menarik lengannya sambil berdiri, "Kamu saja yang duduk, biar saya berdiri," dan mendudukkannya. 

   "Harus terima kasih lagi? Haha." Berapa kali hatinya berteriak ingin tertawa, karena pertemuan hari ini tak pernah ia harapkan. 

   "Satu kali sudah cukup. Gimana kabarnya? Aku jarang lihat kamu beberapa minggu belakangan." 

   "Ya seperti yang terlihat, baik, sehat dan masih memikirkanmu, ehm beraktivitas. Aku juga, mungkin saja waktu kerja kita berbeda." 

   Setelah itu selanjutnya, mereka mendengar riuh rendah penumpang di sekeliling mereka, obrolan terputus. 
Terasa seperti orang asing, ketika tak ada lagi yang kau dan aku bicarakan, pikir Diana. 

   Bus sudah mendekat halte karet, waktunya Diana turun. Ia sudah siap-siap berdiri, dan kursinya kini kosong. "Aku turun disini, aku duluan ya, Dit." 

   "Di!" Panggil Adit, sebelum turun. Diana menoleh. "Aku mau minta nomormu, tapi sepertinya tidak akan sempat sekarang, nanti pukul lima sore kutunggu di halte ya.. See you." Diana balas senyum dan mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada Adit, sesaat setelah ia turun dari bus. 

   Terkadang pertemuan yang kalian harapkan tak kunjung datang, tapi jangan khawatir mungkin kalian akan segera bertemu di waktu yang lebih baik dan di hari yang lebih cerah.