Selasa, 31 Januari 2017

Rindu - chapter 1

Diana 

   Sejak hari itu, aku terus saja memikirkannya. Setiap kali kulewati jalan kelapa raya, aku berhenti sejenak, menimbang, apa perlu aku menyusuri jalan rumahnya. Tapi ku urungkan niat tersebut, aku malu juga penasaran. Maka aku berjalan terus menuju rumahku. 

   Tiap kali hujan turun, tiba-tiba yang terlintas adalah apa dia membawa payung? Apa dia sedang di halte? Ah, sebulan ini, setelah bertemu orang itu, aku terus saja ingin memikirkannya. Atau bahkan aku sengaja memikirkannya. 

   "Di, ngapain sih ngelamun aja?" sapa seorang temanku. 

   "Ah, enggak lagi menikmati hujan aja, rasanya adem, sejuk, dan membawa secuil kenangan." 

   "Cieee... Kenangan apa? Sama siapa?" Lagi dia menyenggol lenganku. 

   "Haha, ada lah sama orang. Nanti saja kuceritakan, aku sedang ingin menikmati suara hujan yang menawan." 

   Kenangan, ah benar, yang berlalu dan berharga diingat selalu disebut kenangan. Ah... kenangan, aku rindu. Hujan, bawa dia kepadaku. 

Adit

   Entah berapa kali aku membulatkan tekad untuk berkunjung kerumahnya, tapi berkali-kali juga ku urungkan niat tersebut. Aku tahu maksudnya, aku tahu kenapa ia memberiku alamat lengkap, karena dia berharap kami dapat bertemu lagi. 

   Ah, ego, kenapa kau selalu saja menghentikanku? Buat apa kau simpan gengsi di hati jika akhirnya kau seperti ingin gila sendiri. Aku lupa, seharusnya waktu itu aku minta nomor teleponnya. Tapi aku yakin, dia pasti tak akan begitu saja memberikannya, apalagi karena kami baru pertama bertemu. 

   Belakangan aku selalu menyelipkan payung lipat ke dalam tasku, aku juga sering menunggu di halte bus, berharap kami dapat bertemu seperti saat itu. Tapi giliran aku yang memberinya tumpangan. Hujan, kenapa tak kau bawa dia datang? 

   Rasanya, ini bukan kali pertama aku merasa tertarik pada wanita, tapi yang ini terasa lain untukku. Terasa hangat dan nyaman. 

   Diana, sedang apa dirimu? Tahukan kau bahwa aku rindu? 

Minggu, 29 Januari 2017

Cerita bersama hujan

   Akhir-akhir ini hujan terus saja mengguyur daerah rumahku, ada cemas dan bahagia kala hujan turun. Cemas karena aku tak bisa pergi sesuka hati, dan juga bahagia karena hujan pernah membuat cerita tentangmu. 

   Kau dengan senyum indahmu yang kutemukan di halte bus. Kau dan jaket abu-abumu. Aku tak sengaja turun dari bus ketika kulihat kau akan menerobos kedalam hujan, saat itu kami ada di arah pulang yang sama, sebelum kau sempat berlari, lebih dulu kuberikan kau tempat didalam payungku. Kaget, kau menoleh kearahku. 

   "Hujannya lumayan deras dan sepertinya kita searah." Kataku berhati-hati.

   Kau tersenyum, "terima kasih. sepertinya aku lari saja." sambil bersiap-siap menggenggam erat tasmu. 

   "Ya sudah kalau itu maumu." aku tak bisa memaksa kehendakku, karena mungkin kau akan bingung. Kau bersiap-siap lari, tapi kemudian tidak jadi. "Tidak jadi?" aku belum berpindah dari tempatku sebelumnya. 

   "Didalam tasku banyak dokumen penting, boleh aku tetap bersamamu? Dalam payung ini?" Siapa sangka akhirnya kau menyerah pada butir-butir air yang turun dari langit. 

   "Hmm..." kataku sambil mengangguk. Setelah itu kamu mengambil alih gagang payung yang kupegang, sembari berkata, "biar aku saja." 

   "Hujan seringkali bikin pusing kepala," kamu mulai berbicara santai. "Iya itu kalau kau kehujanan." 

   "Bukan itu maksudku, gara-gara hujan aku agak terepotkan." 

   "Semua orang terepotkan oleh hujan, terlebih bagi mereka yang berkendara. Tapi mungkin hujan memberi makna lain bagi segelintir orang."

   "Maknanya?" 

   "Hujan memberi mereka persediaan air, hujan menumbuhkan tanaman mereka, hujan memberi udara yang berbeda, juga hujan menyenangkan." 

   "Kalau menurutmu hujan menyenangkan, mengapa kita perlu payung?"

   "Karena biar bagaimanapun kita tetap perlu perlindungan, terutama untuk orang-orang yang didalam tas nya banyak dokumen penting sepertimu." Kami mulai menyejajarkan langkah kaki masing-masing dan ternhanyut oleh pembicaraan mengenai hujan. 

   Aku tersenyum mendengar giliranmu bercerita, hingga tak terasa kami sudah berada di persimpangan jalan, "Kamu kearah mana?" tanyanya. 

   "Aku masih lurus lagi, rumahmu di gang yang ini?" kami berada didepan sebuah jalan sebelah kiri kami, tulisannya jalan kelapa raya. 

   Dia mengangguk, "perlu kuantar sampai depan rumahkah?" kataku sedikit meledek. 

   "Jangan, tidak baik dilihat tetangga, haha." 

   "Kenapa bisa tidak baik? Ya anggap saja, aku ojek payungmu." 

   "Karena harusnya aku yang antar kau sampai depan rumah." Senyumnya menggodaku dan aku yakin kalau wajahku sedikit memerah saat ini. "Rumahmu dimana?" Tiba-tiba dia bertanya. 

   "Eh? Hm.. rumahku di jalan mangga no 16." Eh, kenapa kuberitahu selengkap itu? Apa aku berharap dia kan datang kerumahku, ah terserahlah. Aku hanya keceplosan. 

  "Yasudah aku duluan ya.. Hati-hati jalannya, mungkin benar kapan-kapan aku akan berkunjung kerumahmu. Ah iya, namaku Adit, Aditya. Namamu siapa?" 

   "Aku Diana.." Dia masihada di bawah payung yang sama denganku, tapi gagang payung sudah berpindah ke tanganku. "Sampai bertemu lagi, Di." Suaranya seperti orang yang sudah akrab denganku. 

   Pada hujan-hujan berikutnya, aku selalu berharap bertemu lagi denganmu, aku seperti melihat film yang berulang-ulang diputar, aku kembali pada pertemuan pertama kami dihalte bus, dibawah hujan dan didalam payung. Semuanya masih terasa segar dalam ingatanku. Pikirku mungkin di hujan yang selanjutnya, kau sudah sedia payung.  

Sabtu, 21 Januari 2017

Aku jatuh cinta

Pada sebuah malam di bilangan kota, kutemukan ia dalam keramaian
Pada satu hari disudut kota, kutemukan ia yang sendirian 
Ku amati dan kuhampiri 
Lalu selanjutnya yang terjadi adalah aku jatuh hati 

Pada suatu siang di alun-alun kota, ku temukan ia duduk menunggu 
Ku teriakkan namanya, tak peduli tatapan sekitarku 
Ku berlari kearahnya dengan hati berdebar 
Lengannya yang kokoh merengkuh erat 

Tak ada senyum semanis dirinya 
Tak ada tawa seindah tawanya 
Tak ada yang lain mampu buatku bahagia selain ia
Semua yang ada padanya membuatku terpesona 
Hingga akhirnya aku jatuh cinta, lagi dan lagi  

Kamis, 19 Januari 2017

Aku masih menyukaimu

    Aku masih menyukaimu, dari sejak kita bertemu tiga tahun lalu. Aku masih mengingat kebiasaanmu, sejak kita mulai jalan bersama. Aku masih menginginkanmu, bahkan setelah kita berpisah. Berat bagiku melupakanmu, daripada melupakanmu, aku memilih untuk tetap menyukaimu. Tapi aku takut kalau rasa suka ini membuatku terobsesi padamu.

    Sesekali aku merenung, benarkah aku menyukaimu? oh salah, masihkah aku menyukaimu? Salahkan itu? Salahkah aku tetap seperti ini, walau kutahu ada yang lain dihatimu. Walau kutahu bukan aku yang ada dihatimu. Bagimu aku mungkin teman, sahabat atau adik yang baik. Tapi bagiku, karena hal itu aku ingin selalu ada disisimu.

    Menyadari jarak yang tak lagi sedikit diantara kita, membuat semangatku sedikit demi sedikit hilang, aku hampir menyerah terhadapmu. Jakarta-Kalimantan dapat menjadi alasan klasik seorang dapat berpisah. Sejujurnya, bukan itu yang membuatku hampir menyerah, tapi karena aku menyadari hanya aku yang merindukanmu disini. Aku ingin sekali mendengar suaramu setiap pagi dan malam, setidaknya aku butuh kabar yang menyatakan kau baik-baik saja.

    Namun, kini, beberapa hari belakangan, kamu bahkan tak mengirim pesan teks kepadaku. Apa kamu masih mengingatku bahkan sebagai kawan? Ah mungkin kamu lupa, itulah yang terus terpikirkan. Tidak, seringkali aku justru berpikir, mungkin kamu sibuk. Ya, sibuk sekali, sampai lupa terhadapku.

    Sesaat berpikir sseperti ini, sebuah pesan masuk ke ponselku. Dengan antusias dan juga sedikit rasa kesal ku buka pesan tersebut, pesanmu.
"Aku sibuk belakangan ini, maaf.. Juga tempat sepi tanpamu."

Sepotong hati yang baru

Pagi..
Kau tahu benar aku pergi 
Bukan dari dunia ini melainkan dari sisinya
Meninggalkannya dengan hati yang juga terluka 

Pagi..
Kau tahu benar aku berdiri 
Aku berdiri diantara bayangannya 
Aku berdiri kesepian diantara ramainya jalanan

Pagi.. 
Kala matahari bersinar cerah kau akan tahu bahwa ku menghilang 
Dari kehidupan yang gegap gempita 
Meninggalkan seberkas kenangan yang ingin coba dilupakan

Pagi.. 
Jangan coba bohongi hati 
Aku mungkin akan kembali 
Setelah aku menyembuhkan luka dihati
Setelah malam-malam panjang yang kulalui seorang diri
Ku kan kembali dengan sepotong hati yang baru 


Notes : Happy new yearrr 2017. First post in 2017. :-) :D