Minggu, 16 April 2017

Pertemuan Sore Itu

Menjelang sore kira-kira pukul 16.20 kurapihkan seluruh pekerjaanku, dan kemudian absen pulang. 
"Di, mau bareng ga?" tanya salah satu temanku, Indra. 

"Lo bukannya mau bareng Alia?" tanyaku yang sudah beberapa langkah meninggalkan meja kerja.

"Alia ada meeting dulu di luar, mumpung gue sendiri ni. Lagian senin gini pasti nunggu bis juga agak lama, kaya gatau aja."

"Iya juga sih. Yaudah boleh lah.." Kami pun berjalan ke luar kantor, tepatnya ke parkiran.

"Lo bawa helm dua emang, Ndra?" tanyaku dibelakangnya, setelah sampai di motor. Dia membuka jok motor, "Ada nih." sembari menyodorkannya kepadaku.

"Siap sedia banget ya, kalau-kalau ketemu cewek cantik dijalan haha."

"Sial." ujarnya. 

Sore ini seperti hari yang sudah kutunggu-tunggu sekian lama, hatiku berdebar dan tidak sabar. Tapi aku harus tetap tenang. 

"Gue bisa denger kali Di bunyi detak jantung lo, yang kaya orang kesetanan." Canda Indra. Aku memukulnya,"Gak lucu ah." 

"Emang lo beneran begitu?" Kami udah duduk diatas motor, dan sudah mulai jalan keluar gedung kantor. 

"Hmm." kataku pelan, malu. Yang dibalas tawa bahagia darinya. "Seneng ya, liat temennya kaya gini."

"Gue heran aja Di, lo kan bukan pertama kali jatuh cinta, masa iya lo betulan berdebar kaya gitu."

"Gue juga heran, Ndra. Mungkin karena terlalu rindu kali yah, haha. Ndra, lo pernah betul-betul jatuh cinta ga?" Indra tidak langsung menjawab, aku bisa langsung tahu kalau dia sedang berpikir. Mungkin dia mengingat kisa percintaannya selama ini.

"Kalau ngga kenapa Di?" 

"Mungkin kita sama Ndra, ketika kita tidak benar jatuh cinta, kita akan tahu ketika jatuh cinta rasanya sedahsyat apa, mungkin gue seperti itu sekarang ini." Motornya menembus keramaian ibukota yang menyambut jam pulang kerja. 

"Mungkin lo bener, Di. Tumben lo suka bijak, haha." Dia selalu seperti itu, menjadikan bahan pembicaraan yang awalnya serius berubah menjadi candaan.

"Ngomong sama lo mah, ga bisa serius." 

"Tuh tau, hahaha." Jawabnya. 

Dibanding aku naik bis, naik motor jelas lebih cepat, apalagi kalau Indra yang mengendarai, selip sana selip sini. Sedikit ngeri juga, tapi dipikir-pikir alau ngga begitu, gimana bisa sampai tujuan cepat waktu, yang jadi kendala adalah karena orang-orang lebih suka naik kendaraan pribadi, macam kendaraan roda empatatau roda dua, bikin jalanan makin penuh saja. 

"Lo enjoy naik motor? Ga cape?"

"Enjoy aja, Di. Cape sih cape, tapi kan lumayan ngirit, belum lagi, ke halte dari rumah gue kan lumayan jauh juga makanya mending naik motor sekalian. Lo turun di halte kan?" Saking ke asyikkan ngobrol, aku hampir lupa waktu, setelah melihat jam tanganku, menunjukkan pukul 17.10. 

"Eh, iya, Ndra. Gue turun di halte aja. Ga terasa ya udah mau sampai." Tak lama setelah dia bertanya, dia menurunkanku tepat di sebelah halte. Aku turun dan melepas helm, sembari melihat sekeliling dan tepat kutemukan dirinya, duduk di kursi tunggu. Dia masih asyik memainkan ponselnya, menunggu bis yang akan datang. Dia tak menyadari kedatanganku. 

"Yang mana, Di? Yang lagi duduk main ponsel itukah?" Entah bagaimana Indra dengan mudah mengenalinya, mungkin karena hanya ada dua lelaki yang duduk disana jadi menebakpun lebih mudah. Aku jawab dengan anggukan. Setelah aku mengangguk kulihat lagi kearahnya, sambil menunggu Indra pergi, tapi dia menangkap tatapanku, dia melihat kearahku dengan wajah yang tersenyum lebar. Indra belum pergi, dia menghampiri kami. 

"Kenalkan ini teman kantorku, Indra. Ndra kenalkan ini.." aku sempat mencari kata yang pas untuknya, sedangkan wajah Indra sudah menunjukkan pengertian, "Indra." ucapnya langsung menyodorkan tangannya membalas, "Adit." 

"Yaudah, Dit, Di. Gue langsung pulang aja ya. Yuk duluan.." Pamit Indra. Dan kini tinggal aku dan dia, di halte yang sama dan diantara ramai orang di sekitar. 


Sabtu, 18 Februari 2017

Senin siang yang ceria

   Hari senin terasa berlalu sangat lambat bagi Diana yang tak sabar akan pertemuan mereka nanti. Sepanjang bekerja, Diana mendendangkan lagu yang disambut tanda tanya dari temannya. 
"Mood mu bagus sekali, Di." kata Indra sembari lewat dari kubikelnya. 

   "Ya, luar biasa bagusnya, sampai aku tak bisa berhenti bernyanyi." Diana memasang wajah se-sumringah mungkin. 

   "Biar saja, Ndra, daripada kita melihat dia yang terus melamun tak ada gunanya." Timpal Alia. 

   "Yah, ada bagusnya juga sih lo jatuh cinta." Indra kembali meledek.

   "Siapa bilang gue jatuh cinta?" Kini Diana yang kembali bingung. 

   "Jangan lo pikir kami tidak tahu, Di. We know all about you, yang perlu lo katakan hanya ya saja, haha." 

   Diana berpikir, benarkah dirinya jatuh cinta? Dengan Aditya? Orang yang baru saja bertemu dengannya dua kali, dia bahkan tidak tahu apa Adit punya kekasih atau tidak. 
Masih terlalu awal untuk dikatakan cinta, pikirnya. 

   Saat jam istirahat datang, Indra, Alia dan Diana makan bersama di kantor perusahaan yang letaknya di lantai lima gedung pencakar tersebut. 

   "Al, mau ikut gue gak? Ke malang, kita travellingan."

   "Alia doang ya diajak? Jadi gitu ya gue udah ditinggal?" balas Diana. 

   "Ya siapa tahu lo punya rencana akhir bulan, daripada sia-sia ngajak mending gue bawa Alia." didepannya Alia hanya cekikikan.

   "Gue ga punya rencana apa-apa kok. Yaudah kalo gitu gue ikut!" sambil melahap bento yang didepannya.

   "Okeee kalau gitu gue mesti pesen tiketnya dari sekarang, nanti lo pada kirim foto ktp ya ke wasap gue." Indra menyeruput latte nya. 

   Saat makanan didepan mereka sudah habis yang tersisa kini adalah kepulan-kepulan asap dari minuman yang meereka minum, Alia dengan teh hangatnya, Diana dan Indra dengan lattenya masing-masing. 

   "Lo ketemu dia dimana, Di?" Indra kembali menginterogasi. 

   "Siapa?" Diana belum mengerti arah bicara Indra.

   "Ya siapa lagi yang bikin hati lo berbunga, haha." Alia ikut menimpali.

   "Ohhhhhh... Di halte." 

   "Di halte? Gimana ceritanya? Jaman sekarang ya, ketemu dimana aja langsung jatuh cinta." Indra berkata sok bijak yang dibalas Diana dengan mendorong tubuh Indra, "Gue belom sampe taraf itu kali, Ndra." 

   "Are you sure?" dengan mimik wajah yang dimainkannya. "Ya, I'm sure. puas?" 

   "Berarti gue masih ada kesempatan sama lo kan?" 

   Sontak kedua temannya itu sekarang sama-sama mengarahkan pandangnya ke Indra dan berteriak, "Indraaaaaa!"

   "Ya ampuun, kalian ini teriak di kanan dan kiri gue bikin telinga gue bentar lagi bakal budeg tahu gak! Gue bercanda kali guys, gue cuma mau tau reaksi kalian aja, haha."

   "Isssh! Gak lucu!" jawab keduanya sambil memukul lengan kanan dan kiri Indra. 

   Indra hanya tertawa senang dan membuat mereka berhenti memukul, saling pandang satu sama lain dan, "Hahahaha..." mereka tertawa bersama. Sampai bunyi jam dinding di kantin menunjukkan pukul satu. 

   "Waktunya kembali bekerja, yok yok.." Alia berujar mengingatkan. 

   Mereka berjalan bersisian dengan Indra di tengah, yang kembali di komentar Diana. "Jangan gini posisinya gengs, gue aja yang ditengah, kalo Indra ditengah berasa kita berebut dia, ewwwh." Diana mengambil posisi ditengah menggeser Indra ke sebelah kanan. 

Begitulah cerita senin siang di kantornya Diana, entah apa yang terjadi pada senin sorenya, akan diposting selanjutnya. See you!

Senin, 06 Februari 2017

Pertemuan tak terduga

   Selama berminggu-minggu, mereka berharap, merindu juga terkadang menginginkan hari hujan. Tapi sekalipun hujan, takdir belum membawa mereka bertemu. 

   Hari senin yang cerah, aku rasa payung tidak akan berguna lagi. Pikir Diana, maka di letakkan payungnya dimeja kamarnya. Lalu seperti biasa, melewati hari senin yang ramai di ibukota. 

   Semua orang lalu lalang, ramai dan macet sana sini, stasiun kereta sesak oleh penumpang, halte bus tiba-tiba bagai semut yang menunggu makan. 

   "Permisi.. permisi.." ujarnya ketika masuk kedalam bus kota, mengambil tempat sedikit ke belakang, sudah tak ada lagi kursi, jadi dia hanya berdiri di belakang. Ketika bus berhenti, terkadang harus berpegang erat karena kalau tidak bisa terjatuh. 

   Seperti saat itu, ia sedang melamun ketika bus berhenti, mau tak mau ia mengeratkan pegangan tangannya, tapi sayang, dia telat. Dia sudah maju beberapa langkah dari tempat berdiri sebelumnya, yang entah kenapa dia tak jadi menabrak orang didepannya, karena tangan seseorang dari belakang menarik lengannya.  

   Dia lega bukan kepalang, bisa malu sekaligus tidak enak hati jika akhirnya nanti menabrak lalu jatuh. Dia masih belum tahu siapa yang menarik lengannya, dia hanya mengusap dada tanda 'syukurlah'. 

   "Te.." ucapannya berhenti sampai disitu, sampai saat ia menyadari seseorang yang sedari tadi menarik lengannya. 

   "Tidak jadi bicara?" Tanya lelaki itu penuh dengan suara meledek dan juga senyum yang lebar. Ia menyambutnya dengan senyum yang sejak beberapa minggu ditahan, akhirnya, begitu batinnya. 

   "Terima kasih, kita impas ya.." Katanya masih dengan hati yang berbunga.  

   Lelaki itu kembali menarik lengannya sambil berdiri, "Kamu saja yang duduk, biar saya berdiri," dan mendudukkannya. 

   "Harus terima kasih lagi? Haha." Berapa kali hatinya berteriak ingin tertawa, karena pertemuan hari ini tak pernah ia harapkan. 

   "Satu kali sudah cukup. Gimana kabarnya? Aku jarang lihat kamu beberapa minggu belakangan." 

   "Ya seperti yang terlihat, baik, sehat dan masih memikirkanmu, ehm beraktivitas. Aku juga, mungkin saja waktu kerja kita berbeda." 

   Setelah itu selanjutnya, mereka mendengar riuh rendah penumpang di sekeliling mereka, obrolan terputus. 
Terasa seperti orang asing, ketika tak ada lagi yang kau dan aku bicarakan, pikir Diana. 

   Bus sudah mendekat halte karet, waktunya Diana turun. Ia sudah siap-siap berdiri, dan kursinya kini kosong. "Aku turun disini, aku duluan ya, Dit." 

   "Di!" Panggil Adit, sebelum turun. Diana menoleh. "Aku mau minta nomormu, tapi sepertinya tidak akan sempat sekarang, nanti pukul lima sore kutunggu di halte ya.. See you." Diana balas senyum dan mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada Adit, sesaat setelah ia turun dari bus. 

   Terkadang pertemuan yang kalian harapkan tak kunjung datang, tapi jangan khawatir mungkin kalian akan segera bertemu di waktu yang lebih baik dan di hari yang lebih cerah. 


Selasa, 31 Januari 2017

Rindu - chapter 1

Diana 

   Sejak hari itu, aku terus saja memikirkannya. Setiap kali kulewati jalan kelapa raya, aku berhenti sejenak, menimbang, apa perlu aku menyusuri jalan rumahnya. Tapi ku urungkan niat tersebut, aku malu juga penasaran. Maka aku berjalan terus menuju rumahku. 

   Tiap kali hujan turun, tiba-tiba yang terlintas adalah apa dia membawa payung? Apa dia sedang di halte? Ah, sebulan ini, setelah bertemu orang itu, aku terus saja ingin memikirkannya. Atau bahkan aku sengaja memikirkannya. 

   "Di, ngapain sih ngelamun aja?" sapa seorang temanku. 

   "Ah, enggak lagi menikmati hujan aja, rasanya adem, sejuk, dan membawa secuil kenangan." 

   "Cieee... Kenangan apa? Sama siapa?" Lagi dia menyenggol lenganku. 

   "Haha, ada lah sama orang. Nanti saja kuceritakan, aku sedang ingin menikmati suara hujan yang menawan." 

   Kenangan, ah benar, yang berlalu dan berharga diingat selalu disebut kenangan. Ah... kenangan, aku rindu. Hujan, bawa dia kepadaku. 

Adit

   Entah berapa kali aku membulatkan tekad untuk berkunjung kerumahnya, tapi berkali-kali juga ku urungkan niat tersebut. Aku tahu maksudnya, aku tahu kenapa ia memberiku alamat lengkap, karena dia berharap kami dapat bertemu lagi. 

   Ah, ego, kenapa kau selalu saja menghentikanku? Buat apa kau simpan gengsi di hati jika akhirnya kau seperti ingin gila sendiri. Aku lupa, seharusnya waktu itu aku minta nomor teleponnya. Tapi aku yakin, dia pasti tak akan begitu saja memberikannya, apalagi karena kami baru pertama bertemu. 

   Belakangan aku selalu menyelipkan payung lipat ke dalam tasku, aku juga sering menunggu di halte bus, berharap kami dapat bertemu seperti saat itu. Tapi giliran aku yang memberinya tumpangan. Hujan, kenapa tak kau bawa dia datang? 

   Rasanya, ini bukan kali pertama aku merasa tertarik pada wanita, tapi yang ini terasa lain untukku. Terasa hangat dan nyaman. 

   Diana, sedang apa dirimu? Tahukan kau bahwa aku rindu? 

Minggu, 29 Januari 2017

Cerita bersama hujan

   Akhir-akhir ini hujan terus saja mengguyur daerah rumahku, ada cemas dan bahagia kala hujan turun. Cemas karena aku tak bisa pergi sesuka hati, dan juga bahagia karena hujan pernah membuat cerita tentangmu. 

   Kau dengan senyum indahmu yang kutemukan di halte bus. Kau dan jaket abu-abumu. Aku tak sengaja turun dari bus ketika kulihat kau akan menerobos kedalam hujan, saat itu kami ada di arah pulang yang sama, sebelum kau sempat berlari, lebih dulu kuberikan kau tempat didalam payungku. Kaget, kau menoleh kearahku. 

   "Hujannya lumayan deras dan sepertinya kita searah." Kataku berhati-hati.

   Kau tersenyum, "terima kasih. sepertinya aku lari saja." sambil bersiap-siap menggenggam erat tasmu. 

   "Ya sudah kalau itu maumu." aku tak bisa memaksa kehendakku, karena mungkin kau akan bingung. Kau bersiap-siap lari, tapi kemudian tidak jadi. "Tidak jadi?" aku belum berpindah dari tempatku sebelumnya. 

   "Didalam tasku banyak dokumen penting, boleh aku tetap bersamamu? Dalam payung ini?" Siapa sangka akhirnya kau menyerah pada butir-butir air yang turun dari langit. 

   "Hmm..." kataku sambil mengangguk. Setelah itu kamu mengambil alih gagang payung yang kupegang, sembari berkata, "biar aku saja." 

   "Hujan seringkali bikin pusing kepala," kamu mulai berbicara santai. "Iya itu kalau kau kehujanan." 

   "Bukan itu maksudku, gara-gara hujan aku agak terepotkan." 

   "Semua orang terepotkan oleh hujan, terlebih bagi mereka yang berkendara. Tapi mungkin hujan memberi makna lain bagi segelintir orang."

   "Maknanya?" 

   "Hujan memberi mereka persediaan air, hujan menumbuhkan tanaman mereka, hujan memberi udara yang berbeda, juga hujan menyenangkan." 

   "Kalau menurutmu hujan menyenangkan, mengapa kita perlu payung?"

   "Karena biar bagaimanapun kita tetap perlu perlindungan, terutama untuk orang-orang yang didalam tas nya banyak dokumen penting sepertimu." Kami mulai menyejajarkan langkah kaki masing-masing dan ternhanyut oleh pembicaraan mengenai hujan. 

   Aku tersenyum mendengar giliranmu bercerita, hingga tak terasa kami sudah berada di persimpangan jalan, "Kamu kearah mana?" tanyanya. 

   "Aku masih lurus lagi, rumahmu di gang yang ini?" kami berada didepan sebuah jalan sebelah kiri kami, tulisannya jalan kelapa raya. 

   Dia mengangguk, "perlu kuantar sampai depan rumahkah?" kataku sedikit meledek. 

   "Jangan, tidak baik dilihat tetangga, haha." 

   "Kenapa bisa tidak baik? Ya anggap saja, aku ojek payungmu." 

   "Karena harusnya aku yang antar kau sampai depan rumah." Senyumnya menggodaku dan aku yakin kalau wajahku sedikit memerah saat ini. "Rumahmu dimana?" Tiba-tiba dia bertanya. 

   "Eh? Hm.. rumahku di jalan mangga no 16." Eh, kenapa kuberitahu selengkap itu? Apa aku berharap dia kan datang kerumahku, ah terserahlah. Aku hanya keceplosan. 

  "Yasudah aku duluan ya.. Hati-hati jalannya, mungkin benar kapan-kapan aku akan berkunjung kerumahmu. Ah iya, namaku Adit, Aditya. Namamu siapa?" 

   "Aku Diana.." Dia masihada di bawah payung yang sama denganku, tapi gagang payung sudah berpindah ke tanganku. "Sampai bertemu lagi, Di." Suaranya seperti orang yang sudah akrab denganku. 

   Pada hujan-hujan berikutnya, aku selalu berharap bertemu lagi denganmu, aku seperti melihat film yang berulang-ulang diputar, aku kembali pada pertemuan pertama kami dihalte bus, dibawah hujan dan didalam payung. Semuanya masih terasa segar dalam ingatanku. Pikirku mungkin di hujan yang selanjutnya, kau sudah sedia payung.  

Sabtu, 21 Januari 2017

Aku jatuh cinta

Pada sebuah malam di bilangan kota, kutemukan ia dalam keramaian
Pada satu hari disudut kota, kutemukan ia yang sendirian 
Ku amati dan kuhampiri 
Lalu selanjutnya yang terjadi adalah aku jatuh hati 

Pada suatu siang di alun-alun kota, ku temukan ia duduk menunggu 
Ku teriakkan namanya, tak peduli tatapan sekitarku 
Ku berlari kearahnya dengan hati berdebar 
Lengannya yang kokoh merengkuh erat 

Tak ada senyum semanis dirinya 
Tak ada tawa seindah tawanya 
Tak ada yang lain mampu buatku bahagia selain ia
Semua yang ada padanya membuatku terpesona 
Hingga akhirnya aku jatuh cinta, lagi dan lagi  

Kamis, 19 Januari 2017

Aku masih menyukaimu

    Aku masih menyukaimu, dari sejak kita bertemu tiga tahun lalu. Aku masih mengingat kebiasaanmu, sejak kita mulai jalan bersama. Aku masih menginginkanmu, bahkan setelah kita berpisah. Berat bagiku melupakanmu, daripada melupakanmu, aku memilih untuk tetap menyukaimu. Tapi aku takut kalau rasa suka ini membuatku terobsesi padamu.

    Sesekali aku merenung, benarkah aku menyukaimu? oh salah, masihkah aku menyukaimu? Salahkan itu? Salahkah aku tetap seperti ini, walau kutahu ada yang lain dihatimu. Walau kutahu bukan aku yang ada dihatimu. Bagimu aku mungkin teman, sahabat atau adik yang baik. Tapi bagiku, karena hal itu aku ingin selalu ada disisimu.

    Menyadari jarak yang tak lagi sedikit diantara kita, membuat semangatku sedikit demi sedikit hilang, aku hampir menyerah terhadapmu. Jakarta-Kalimantan dapat menjadi alasan klasik seorang dapat berpisah. Sejujurnya, bukan itu yang membuatku hampir menyerah, tapi karena aku menyadari hanya aku yang merindukanmu disini. Aku ingin sekali mendengar suaramu setiap pagi dan malam, setidaknya aku butuh kabar yang menyatakan kau baik-baik saja.

    Namun, kini, beberapa hari belakangan, kamu bahkan tak mengirim pesan teks kepadaku. Apa kamu masih mengingatku bahkan sebagai kawan? Ah mungkin kamu lupa, itulah yang terus terpikirkan. Tidak, seringkali aku justru berpikir, mungkin kamu sibuk. Ya, sibuk sekali, sampai lupa terhadapku.

    Sesaat berpikir sseperti ini, sebuah pesan masuk ke ponselku. Dengan antusias dan juga sedikit rasa kesal ku buka pesan tersebut, pesanmu.
"Aku sibuk belakangan ini, maaf.. Juga tempat sepi tanpamu."