Menjelang sore kira-kira pukul 16.20 kurapihkan seluruh pekerjaanku, dan kemudian absen pulang.
"Di, mau bareng ga?" tanya salah satu temanku, Indra.
"Lo bukannya mau bareng Alia?" tanyaku yang sudah beberapa langkah meninggalkan meja kerja.
"Alia ada meeting dulu di luar, mumpung gue sendiri ni. Lagian senin gini pasti nunggu bis juga agak lama, kaya gatau aja."
"Iya juga sih. Yaudah boleh lah.." Kami pun berjalan ke luar kantor, tepatnya ke parkiran.
"Lo bawa helm dua emang, Ndra?" tanyaku dibelakangnya, setelah sampai di motor. Dia membuka jok motor, "Ada nih." sembari menyodorkannya kepadaku.
"Siap sedia banget ya, kalau-kalau ketemu cewek cantik dijalan haha."
"Sial." ujarnya.
Sore ini seperti hari yang sudah kutunggu-tunggu sekian lama, hatiku berdebar dan tidak sabar. Tapi aku harus tetap tenang.
"Gue bisa denger kali Di bunyi detak jantung lo, yang kaya orang kesetanan." Canda Indra. Aku memukulnya,"Gak lucu ah."
"Emang lo beneran begitu?" Kami udah duduk diatas motor, dan sudah mulai jalan keluar gedung kantor.
"Hmm." kataku pelan, malu. Yang dibalas tawa bahagia darinya. "Seneng ya, liat temennya kaya gini."
"Gue heran aja Di, lo kan bukan pertama kali jatuh cinta, masa iya lo betulan berdebar kaya gitu."
"Gue juga heran, Ndra. Mungkin karena terlalu rindu kali yah, haha. Ndra, lo pernah betul-betul jatuh cinta ga?" Indra tidak langsung menjawab, aku bisa langsung tahu kalau dia sedang berpikir. Mungkin dia mengingat kisa percintaannya selama ini.
"Kalau ngga kenapa Di?"
"Mungkin kita sama Ndra, ketika kita tidak benar jatuh cinta, kita akan tahu ketika jatuh cinta rasanya sedahsyat apa, mungkin gue seperti itu sekarang ini." Motornya menembus keramaian ibukota yang menyambut jam pulang kerja.
"Mungkin lo bener, Di. Tumben lo suka bijak, haha." Dia selalu seperti itu, menjadikan bahan pembicaraan yang awalnya serius berubah menjadi candaan.
"Ngomong sama lo mah, ga bisa serius."
"Tuh tau, hahaha." Jawabnya.
Dibanding aku naik bis, naik motor jelas lebih cepat, apalagi kalau Indra yang mengendarai, selip sana selip sini. Sedikit ngeri juga, tapi dipikir-pikir alau ngga begitu, gimana bisa sampai tujuan cepat waktu, yang jadi kendala adalah karena orang-orang lebih suka naik kendaraan pribadi, macam kendaraan roda empatatau roda dua, bikin jalanan makin penuh saja.
"Lo enjoy naik motor? Ga cape?"
"Enjoy aja, Di. Cape sih cape, tapi kan lumayan ngirit, belum lagi, ke halte dari rumah gue kan lumayan jauh juga makanya mending naik motor sekalian. Lo turun di halte kan?" Saking ke asyikkan ngobrol, aku hampir lupa waktu, setelah melihat jam tanganku, menunjukkan pukul 17.10.
"Eh, iya, Ndra. Gue turun di halte aja. Ga terasa ya udah mau sampai." Tak lama setelah dia bertanya, dia menurunkanku tepat di sebelah halte. Aku turun dan melepas helm, sembari melihat sekeliling dan tepat kutemukan dirinya, duduk di kursi tunggu. Dia masih asyik memainkan ponselnya, menunggu bis yang akan datang. Dia tak menyadari kedatanganku.
"Yang mana, Di? Yang lagi duduk main ponsel itukah?" Entah bagaimana Indra dengan mudah mengenalinya, mungkin karena hanya ada dua lelaki yang duduk disana jadi menebakpun lebih mudah. Aku jawab dengan anggukan. Setelah aku mengangguk kulihat lagi kearahnya, sambil menunggu Indra pergi, tapi dia menangkap tatapanku, dia melihat kearahku dengan wajah yang tersenyum lebar. Indra belum pergi, dia menghampiri kami.
"Kenalkan ini teman kantorku, Indra. Ndra kenalkan ini.." aku sempat mencari kata yang pas untuknya, sedangkan wajah Indra sudah menunjukkan pengertian, "Indra." ucapnya langsung menyodorkan tangannya membalas, "Adit."
"Yaudah, Dit, Di. Gue langsung pulang aja ya. Yuk duluan.." Pamit Indra. Dan kini tinggal aku dan dia, di halte yang sama dan diantara ramai orang di sekitar.