Selasa, 09 Agustus 2016

Coffe's Proposal


Rinandhi
Namanya Risti Arindra Kusumawati, seorang wanita yang kutaksir berusia dua puluh tiga tahun yang tinggal disebuah rumah warga didaerahku yaitu Liwa, Lampung Barat. Yang baru kuketahui dari mana ia berasal ketika aku bertanya pada ayahku.

Aku Rinandhi Darma Perkasa, orang-orang disekitarku memanggilku Nandhi. Wanita yang baru kutahu namanya itu seringkali datang ke kedai kopi-ku, hampir tiga kali sehari ia kesini, meminum kopi seraya duduk menikmati pandangan sekitarnya, menutup mata, menghirup nafas dalam dan menghembuskan kembali. Seringkali seperti itu.

Atau dia akan datang bersama laptopnya, memesan satu sampai dua gelas kopi, setelah tugas mengetiknya selesai dia akan membayar lalu pergi. Tapi tak jarang kudapati Ayahku berbicara banyak padanya, bercerita asik dan pernah kudapati Ayahku berbicara selama hampir satu jam, aku penasaran apa yang diobrolkan mereka.

“Yah, hm... pelanggan ayah yang perempuan itu tinggal dimana sih yah?” aku penasaran membuka obrolan tengah malam kami, ketika ayah masih memilah biji kopinya.

“Pelanggan ayah yang mana Nan? Pelanggan ayah kan banyak, Nak.” Aku heran aku sudah besar, sudah dewasa, tapi kenapa ketika berbicara dengan Ayah aku masih seperti anak yang baru saja menginjak SMP.

“Hm... yang sering sekali bicara dengan ayah, yah. Yang ngobrolnya lama sekali.”
Ayah mengingat-ingat pelanggannya yang perempuan, aku yakin tak sulit menemukan pelanggan perempuan yang banyak bicara pada Ayah.

“Oh... Ayah ingat. Itu yang namanya Risti ya? Dia dari Jakarta, datang kesini sedang meliput tentang kopi, tadinya anak itu mau minta tinggal disini katanya dia akan menyewa kamar kita, tapi karena tak banyak kamar yang kita punya dan berhubung kamu tak suka tidur bareng Ayah, ya ayah tolak permohonannya.” Ayah berhenti dari kegiatan memilah kopinya, berbicara seraya menatapku.

“Harusnya ayah bilang sama Nandhi yah, nandhi mau kok tidur dengan ayah.” Kataku menjelaskan tetapi kemudian disambut tawa oleh Ayahku. “Ayah lupa kamu sudah besar sudah dua puluh lima tahun, seharusnya ayah biarkan dia disini supaya kamu dapat mengambil hatinya.”

Eh, Ayah tahu maksudku?

“Jelas ayah tahu, ayah kan juga pernah muda. Oh ya bagaimana dengan usahamu di Jakarta?”
Omong-omong aku juga punya kedai kopi yang sama seperti Ayah di Jakarta sebagai usaha sampinganku sedangkan pekerjaanku, aku bekerja disalah satu perusahaan design interior di kota yang sama. Saat ini aku sedang rindu kampung halaman dan mengambil cuti selama satu minggu. 

“Alhamdulillah Yah lancar, tiga hari lagi Nandhi kembali ke Jakarta yah, nanti Nandhi bawa bubuk kopi ya yah. Ayah tidur saja, sudah malam biar Nandhi yang bereskan sisanya.”
________

Keesokan harinya seperti biasa Ayah melakukan kunjungan rutinnya setiap pagi di kebun kopi, pukul tujuh, kutemukan ayah disana namun tidak sendiri tetapi dengan wanita itu.

Aku diam mematung melihat mereka yang sedang berbincang ringan disertai sambut tawa sang wanita, ayah melihatku dan menyuruhku mendekat, “Nah, nak Risti ini anak bapak...” belum selesai ayah mengenalkanku wanita itu menyelanya, “Nandhi kan ya pak?” Ayahku hanya balas mengangguk.

Eh ayah bicara apa saja tentangku?

“Nan kamu temani nak Risti jalan-jalan kebun ya.. Ayah mau siap-siap buka kedai, biar gantian, nanti bosan nak Risti jika yang dilihat hanya orang tua ini.” Ayahku terkekeh dan meninggalkan kami berdua.

“Oh ya kita belum kenalan, nama saya Risti.” Wanita itu mengukurkan tangannya lebih dulu sambil kuajak ia berkeliling kebun.

Aku tak enak hati karena harus wanita ini yang lebih dulu menyapaku, “Nandhi, tadi kan sudah sama Ayah.” Kataku tersenyum.

“Tadi kan baru diperkenalkan belum kenalannya.” Tambahnya tersenyum. Senyuman manis yang menggodaku. Rambutnya yang biasa sebahu, lurus dan hitam legam itu kini dikuncir, dan bola mata bulat yang juga sama hitamnya disertai bulu mata lentiknya menatap kebun kopi kami yang luas sesekali menoleh kearahku.

“Dengar dari ayah katanya dari Jakarta ya?” aku memulai percakapan diantara kami. Ia mengangguk sesekali mengambil gambar kopi yang belum matang.

“Saya juga dengar dari Ayah kamu katanya kamu juga kerja dan buka kedai juga di Jakarta? Saya boleh ambil gambar kamu dengan pohon kopi itu?” pintanya menunjuk salah satu pohon yang ada disebelahku.

“Oh.. iya, boleh. Saya memang kerja di design interior di Jakarta dan kedai kopi saya ada di Jakarta Selatan, kalau kamu tidak keberatan mampirlah ke kedai saya kapan-kapan, saya jamin rasanya sama seperti yang ayah buat.” Aku meyakinkan diriku untuk tak gugup ketika berbicara didepannya.

“Hm... menarik. Kita bisa atur setelah di Jakarta. Kalau saya boleh tahu, gimana perjalanan kebun kopi ayahmu sampai saat ini?”

Aku baru akan bercerita ketika Risti hampir saja masuk kedalam lubang yang ada didepannya, dengan sigap aku menarik tubuhnya hingga tak ada jarak diantara kami, hingga tubuhnya bisa kurasakan bersentuhan dengan tubuhku. Membuat jantungku tak sesuai irama, mataku menatap dalam matanya dan kudapati ia pun kaget bukan kepalang.

Aku melepaskan lebih dulu tanganku, “Maaf, didepan kamu ada lubang.” Aku berangsur membuat jarak lagi diantara kami.

“Terima kasih...” Aku mendengar kelegaan dari ucapannya. Lubangnya memang tak besar tapi jika ia terjerembab mungkin kakinya akan sedikit keseleo.

“Eh, perlu kita lanjutkan?” Sejujurnya aku tak berniat melanjutkan ceritaku, tapi aku berniat melanjutkan kisah ku dan dia.

Risti
Astaga aku kaget setengah mati merasakan tubuhku ditarik olehnya, aku kaget merasakan tubuhku yang bersentuhan dengan tubuhnya, dan aku kaget dengan ritme jantungku ketika ia mendekapku.

Sadarlah, sadarlah Risti. Apa kamu kesini cari jodoh?

Aku segera membuang perasaan malu sekaligus canggungku yang sejak tadi kutahan, “Jadi dulu kebun ini bukan milik ayahmu?” Aku melepaskan pertanyaan ditengah-tengah ceritanya. Sesekali kulirik ia disampingku, kurasakan degup jantungku yang masih tak beraturan.

Lelaki itu menggeleng, ah baiklah sebut namanya Nandhi. “Ayah membelinya dari pemilik aslinya ketika si pemilik sudah meninggal dan anaknya bermaksud menjualnya. Karena ayah hidup dari kebun ini, ayah membelinya walau saat itu kondisi ekonomi kami tak memungkinkan.”

“Sebegitu cintanya ayahmu pada kebun kopi ini?” Aku merekam percakapan kami, ralat yang kurekam bukan hanya suaranya tapi juga gambarnya, jadilah aku merekam video ini. Tenang, aku sudah izin pada orangnya.

Dia mengangguk, “Sebenarnya ayah tak suka jika aku menceritakan kisah ini pada orang lain.” Wajahnya serius, melihat wajah itu terus menerus membuatku khawatir dan cemas pada diriku sendiri.

“Boleh kutahu kenapa?” tanyaku hati-hati.
Dia menggeleng, “Katakanlah Ayah membelinya dengan kerja kerasnya.” Aku tak ingin memaksanya untuk bercerita, lagipula sebenarnya laporan yang kubuat sudah selesai dan sudah kukirim pada tim-ku semalam. Wawancara yang kulakukan dengan Pak Wiro, sudah lebih dari cukup.

Ada jeda beberapa menit diantara kami membuat suasana canggung semakin menjadi. Rasanya tak tahu aku harus apa pada waktu yang kosong diantara kami.

“Jadi, kamu bekerja di televisi swasta atau koran nasional?” Dia menyuruhku untuk duduk di pinggir kebun, dari sana dapat kulihat pemandangan yang tak pernah kunikmati. Hamparan kebun kopi hijau ditambah suasana pagi yang segar.

“Koran. Aku bekerja di koran nasional.” Aku masih sibuk memotret pemandangan dari sini.

“Sering bepergian seperti ini? Sini kameramu. Biar aku bantu ambil gambarmu disini, rugi jika kesini tak berfoto sendiri.”

“Sudah biasa, aku pernah ke Medan tempat danau toba berada untuk liputan seorang diri, walau terkadang aku butuh partner. Terima kasih.” Aku berikan kameraku pada tangannya yang sedang meminta.

Setelah mendapat beberapa foto sendiri, aku rasa dia mengambil terlalu banyak fotoku, oke bukan dia tapi Nandhi. Nandhi memiliki selera fotografi yang bagus, hasil jepretannya sungguh tak mengecewakan malah aku iri melihat hasil jepretannya lebih bagus dari punyaku.

“Kenapa suka kopi? Aku melihatmu dikedai sehari hampir tiga kali kamu kembali ke kedai kami, seperti orang makan tiga kali sehari.” Nandhi tersenyum hangat kearahku. Memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.

Eh, dia juga memperhatikanku? Aku kira aku ke kedai itu untuk meperhatikannya, tapi mendengar penyataannya barusan, itu artinya bukan hanya aku yang tertarik kan?

Tunggu, sejak kapan aku jadi seperti ini? Sebelumnya aku selalu bekerja profesional pada setiap liputanku, oke aku sudah profesional, buktinya laporanku sudah aku berikan pada tim-ku. Sekarang tak apa kan waktunya tidak profesional? Toh besok aku sudah harus kembali ke jakarta. Jika memikirkan hal itu aku jadi berpikir kembali, apa artinya aku dan dia belum jodoh?

“Rista...” Nandhi membuyarkan lamunanku. “Sedang berpikir apa?” Tanyanya yang kutangkap dengan nada sedikit penasaran.

“Sedang berpikir besok sudah harus kembali ke Jakarta, kembali pada rutinitas yang melelahkan. Aku akan merindukan tempat ini, merindukan kebun kopi ini, merindukan dataran tinggi Liwa, merindukan suasana damai ditempat ini...”

Dan merindukanmu. Yang tak dapat terucap dari bibirku.

“Kalau begitu, aku juga akan kembali besok kita bisa berangkat bersama. Tapi kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa suka kopi?”

“Sejujurnya aku lebih sering minum kopi seperti Latte, Machiatto atau Cappuccino. Tapi setelah aku mencicip kopi robusta yang dibuat ayahmu, aku jatuh cinta, pada aromanya, pada rasanya yang berbeda dan pada proses yang dilakukan dengan hati. Membuat rasanya lebih nikmat, hangat, tak pahit tapi ada rasa manis yang khas. Mungkin itu sebab nya aku suka kopi disini, rasanya aku harus mampir ke kedai mu, untuk memuaskan keinginan minum kopiku yang rasanya sama seperti disini.”

Tak terasa hari sudah siang, matahari sudah nampak sinarnya, tapi udara di dataran masih sedikit memberi rasa dingin yang menyegarkan. Nandhi mengajakku menyingkir dari pinggir perkebunan dan duduk ditengah-tengah rindangnya kebun kopi.

Duduk ditengah pohon yang jarang kutemui, membuat indra penciumanku terangsang, aroma dari pepohonan dan tanah yang basah oleh embun terasa sampai ke hidungku, memberikan sensasi tersendiri untukku.

Rinandhi
“Aku akan izin dengan ayah untuk pulang besok. Aku akan temani kamu sampai Jakarta.” Aku mengucapkan mantap ketika kegiatan berkeliling kami selesai.

“Sudah kelilingnya Nak Risti?” Ayah menyambut hangat tamunya dengan senyum yang tiada putus menggodaku. Walau hanya sesekali melirikku, aku kenal bagaimana tabiatnya itu.

Kuantar Risti ke rumah Pak Risto, rumah pak RT-ku tempatnya menginap. Sialnya, aku harus bertemu Refana, anak Pak Risto yang gencar mengejarku sejak dulu. Padahal umurnya sudah menginjak usia dua puluhan tapi tingkahnya masih saja seperti anak-anak.

“Mas Nandhi, tumben kesini. Cari Refa ya? Refa nyari mas Nandhi dari dulu tapi kata Bapak, mas pindah ke Jakarta. Mas gak kangen sama Refa?” Masih sama seperti dulu, masih nerocos setiap kali aku datang. Aku merinding melihat tingkahnya yang semakin menjadi, aku umpatkan tubuh besar ku dibelakang Risti, walau tak menutupi seluruh bagian tubuhku. Aku seperti anak kecil yang takut dengan ondel-ondel sembari memegang tangan ibuku, itu juga yang kulakukan pada Risti.

Risti tertawa tak henti-henti, seraya menggeser tubuhnya kanan-kiri kanan-kiri yang mengikuti gerak tubuhku menarik tangannya, tawanya terhenti ketika ia mungkin sudah lelah.

“Refa, sudah ya.. jangan dikejar lagi, dia udah ketakutan sama kamu. Kamu agresif banget sih Re, nanti aku ajarin cara melakukan pendekatan dengan lelaki.” Aku tahu, itu hanya untuk menghentikan Refa tapi kenapa aku seolah-olah masuk ke perangkap pendekatannya? Ah biarlah, kalau memang begitu, artinya tugas pendekatan dengannya lebih mudah.

“Mbak bener ya?” Tanya Refa polos. Refa seperti anak normal lainnya, tapi entah karena apa Ia memang terobsesi berat denganku sejak dulu. Padahal tingkahnya manis kalau tidak didekatku.
Risti mengangguk, “Mbak, Refa boleh gak pegang mas Nandhi sebentar?” Risti menoleh kearahku, 

“Apa?” Hanya itu yang mampu kuucapkan, tak lama aku mengerti maksud ia menoleh padaku. Aku menggeleng keras.

“Refa, mas udah punya pacar, udah lupain aja ya, kamu mending sama si Ero yang suka sama kamu dulu itu.” dengan tubuh masih dibelakang Risti, aku mengucapkannya sekali nafas seperti orang yang mau ijab kabul.

“Siapa? Ko mas baru bilang sama Refa? Yaudah deh kalo gitu Refa nyerah.”

Hah semudah itu membuatnya menyerah, tau gitu dari dulu aku bilang saja sudah punya pacar kalau perlu tunangan.

Segera setelah acara Refa, aku pamit diri dengan Pak RT dan berpesan sebelum pergi, “Pokoknya besok kamu pulang sama saya. Saya sudah pesan tiket travel kita.” Belum sempat Risti angkat bicara ku balikkan tubuhku pulang. Tunggu ada yang lupa, aku mengambil handphone dari saku celanaku,  “Aku minta nomor telepon mu.” Ku serahkan handphoneku di tangannya.
“Nomorku?” Ia meyakinkan apakah mungkin dia salah dengar. Aku mengangguk mantap. Diketiknya nomor berjumlah dua belas digit angka dan pamit pergi.

Risti
Eh, kenapa dia ingi mengantarku? Kenapa aku jadi bersemangat seperti ini? Lelaki itu, apakah juga sama tertariknya denganku? Aku senyum-senyum menyadari tingkah kekanakannya tadi sore saat dia mengantarku kembali kerumah Pak Risto.

“Mbak ko wajah mba merah? Mbak sakit?” Refa meraba-raba dahiku. “Eh, mbak aku tahu ini bukan sakit, tapi gejala jatuh cinta.” Ujarnya terkikik senang.
Aku meraba-raba wajahku, masa sih wajahku merah. “Kamu serius ga si Re mengenai yang tadi sore?” aku penasaran juga.

“Aku bohong mba, aku sudah besar untuk apa aku masih seperti itu dengan Mas Nandhi, itukan hanya masa lalu saat aku masih remaja. Lagipula, aku dan Mas Ero memang sudah menjalin hubungan, empat bulan lagi aku akan menikah dengan Mas Ero.” Entah kenapa aku lega mendengarnya, mendengar pernyataannya.

“Ya ampuun... kamu jadi ngerjain dia Re? Iseng banget ya? Tapi belum ada yang tahu ya kamu mau nikah dengan Ero?” Aku belum tahu yang mana yang namanya Ero, tapi dari yang kudengar dia seusia dengan Nandhi dan juga kerja di Ibukota, setiap sebulan sekali dia akan pulang ka kampung halamannya.

“Iya mba, haha lucu ya mas Nandhi masih saja seperti itu sejak dia SMA.” Refa tertawa geli mengingat masa lalunya dengan Nandhi.

Aku mendengar getar di handphoneku, sms dari Nandhi.

Ini aku, besok aku jemput pagi-pagi pukul enam ya. Selamat malam Risti, sampai jumpa besok.

Hatiku hangat mendengarnya mengucap namaku.

Malam ini, di ruang keluarga Pak Risto aku pamit karena harus pulang ke Jakarta besok pagi-pagi, tak lupa kuucapkan terima kasih banyak-ku pada keluarga yang hangat ini.

“Padahal Ibu seneng kamu disini, Nak. Refa jadi nggak kesepian.” Ujar Bu Risto sedikit kecewa.

“Iya, bu.. aku juga sama. Padahal aku seneng banget punya temen cerita disini.” Refa memelukku lama.

“Nanti mbak kasih email dan nomor telepon mbak. Kamu bisa hubungi mbak kapanpun kamu mau.” Hiburku pada Refa yang sudah seperti adikku sendiri. Sayangnya adikku itu laki-laki, rasanya tak bisa memeluk dia seperti ini, karena ia sudah tak suka dipeluk.
____

“Bu, Pak, Re, saya pamit pulang dulu ya.. Jaga diri baik-baik ya Bu, Pak, Re, sesekali hubungi saya, saya pasti akan merindukan suasana rumah disini.” Aku sedih juga harus melepas keluarga ini yang sudah seperti keluarga bagiku selama lima hari kehadiranku disini.

Kulihat Nandhi juga pamit pada orang tua Refa tak terkecuali pada Refa. Mungkin semua orang berpikir, kenapa aku bisa pulang dengan Nandhi, aku juga bingung, tapi kemudian Nandhi menjelaskan alasannya yang bagiku terlalu biasa pada keluarga ini.

Tak lupa aku pamit pada Ayahnya Nandhi, Pak Wiro, “Pak, terima kasih banyak ya atas wawancaranya, atas kehangatannya menyambut saya disini, juga atas kopinya yang nikmat.”
“Tidak terima kasih atas anak saya?” Tanyanya membuatku bingung. Apa maksudnya?
“Lho jadi Nak Risti belum tahu, anak saya kenapa ingin mengantar kamu?” Aku menggeleng jelas tak tahu. “Baiklah kalau begitu biar bapak yang beritahu, anak bapak ini mau melamarmu pada orang tuamu di rumah..” Aku menoleh pada Nandhi disamping, dia tak bicara apapun padaku, lagipula kami bahkan baru beberapa hari saling tertarik. “Bapak, disini melamar kamu secara pribadi, apakah kamu bersedia menjadi calon menantu bapak?” Aku yakin ini bukan acara talk show, atau apapun itu kan. Kenapa rasanya seperti aku bermimpi?

Aku senang, sangat senang bukan kepalang. Apa yang harus dan bisa kukatakan untuk mengungkapkan senangku atas berita ini? Aku mengangguk pelan dan mantap pada pertanyaan pak Wiro. “Nah jelas sudah, nak Risti juga mencintai putra bapak. Sekarang waktunya kamu ya Nak, yang izin sama orang tua nak Risti.” Katanya menepuk punggung Nandhi.
Mobil travel kami datang untuk menjemput kami, aku kira hanya ada kami di mobil itu ternyata ada dua penumpang lain, tak apa tak masalah lagipula apa yang aku pikirkan? Ingin berdua dengan Nandhi? Buang jauh-jauh pikiran itu Risti.

Beberapa jam didalam mobil, aku tertidur di sebelah Nandhi, di dadanya yang bidang. Saat aku terbangun, aku melihatnya menatapku. “Kamu serius dengan keputusan kamu?” Aku ingin jawabannya sekali lagi. “YA! Jangan pernah ragukan aku Ris.”

“Kamu mau ngelamar aku pake apa ke Ibu, Bapakku?”

“Pakai Kopi.” Aku terbangun dari posisiku yang menyender padanya. “Serius?”

“Mana pernah aku tidak serius Ris? Aku akan melamarmu dengan kopi.” Katanya sekali lagi, tak berteriak tapi kalau dua orang dibelakang ku tidak tidur mungkin mereka akan mendengar percakapan kami kecuali pak supir.

“Kalau gitu biar aku bantu muluskan rencanamu itu.” Kami tertawa bersama dan bahagia merajai ruang hati kami masing-masing.  


Note : #Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar