Senin, 06 Februari 2017

Pertemuan tak terduga

   Selama berminggu-minggu, mereka berharap, merindu juga terkadang menginginkan hari hujan. Tapi sekalipun hujan, takdir belum membawa mereka bertemu. 

   Hari senin yang cerah, aku rasa payung tidak akan berguna lagi. Pikir Diana, maka di letakkan payungnya dimeja kamarnya. Lalu seperti biasa, melewati hari senin yang ramai di ibukota. 

   Semua orang lalu lalang, ramai dan macet sana sini, stasiun kereta sesak oleh penumpang, halte bus tiba-tiba bagai semut yang menunggu makan. 

   "Permisi.. permisi.." ujarnya ketika masuk kedalam bus kota, mengambil tempat sedikit ke belakang, sudah tak ada lagi kursi, jadi dia hanya berdiri di belakang. Ketika bus berhenti, terkadang harus berpegang erat karena kalau tidak bisa terjatuh. 

   Seperti saat itu, ia sedang melamun ketika bus berhenti, mau tak mau ia mengeratkan pegangan tangannya, tapi sayang, dia telat. Dia sudah maju beberapa langkah dari tempat berdiri sebelumnya, yang entah kenapa dia tak jadi menabrak orang didepannya, karena tangan seseorang dari belakang menarik lengannya.  

   Dia lega bukan kepalang, bisa malu sekaligus tidak enak hati jika akhirnya nanti menabrak lalu jatuh. Dia masih belum tahu siapa yang menarik lengannya, dia hanya mengusap dada tanda 'syukurlah'. 

   "Te.." ucapannya berhenti sampai disitu, sampai saat ia menyadari seseorang yang sedari tadi menarik lengannya. 

   "Tidak jadi bicara?" Tanya lelaki itu penuh dengan suara meledek dan juga senyum yang lebar. Ia menyambutnya dengan senyum yang sejak beberapa minggu ditahan, akhirnya, begitu batinnya. 

   "Terima kasih, kita impas ya.." Katanya masih dengan hati yang berbunga.  

   Lelaki itu kembali menarik lengannya sambil berdiri, "Kamu saja yang duduk, biar saya berdiri," dan mendudukkannya. 

   "Harus terima kasih lagi? Haha." Berapa kali hatinya berteriak ingin tertawa, karena pertemuan hari ini tak pernah ia harapkan. 

   "Satu kali sudah cukup. Gimana kabarnya? Aku jarang lihat kamu beberapa minggu belakangan." 

   "Ya seperti yang terlihat, baik, sehat dan masih memikirkanmu, ehm beraktivitas. Aku juga, mungkin saja waktu kerja kita berbeda." 

   Setelah itu selanjutnya, mereka mendengar riuh rendah penumpang di sekeliling mereka, obrolan terputus. 
Terasa seperti orang asing, ketika tak ada lagi yang kau dan aku bicarakan, pikir Diana. 

   Bus sudah mendekat halte karet, waktunya Diana turun. Ia sudah siap-siap berdiri, dan kursinya kini kosong. "Aku turun disini, aku duluan ya, Dit." 

   "Di!" Panggil Adit, sebelum turun. Diana menoleh. "Aku mau minta nomormu, tapi sepertinya tidak akan sempat sekarang, nanti pukul lima sore kutunggu di halte ya.. See you." Diana balas senyum dan mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada Adit, sesaat setelah ia turun dari bus. 

   Terkadang pertemuan yang kalian harapkan tak kunjung datang, tapi jangan khawatir mungkin kalian akan segera bertemu di waktu yang lebih baik dan di hari yang lebih cerah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar