Jumat, 09 September 2016

Catatan Kecil di Malam Hari

Malam semakin larut, udara dingin terasa menusuk ke celah tulangku, membawaku pada malam-malam dingin yang indah. Malam ketika dia tersenyum manis kepadaku, tertawa riang disampingku, dan tertidur aku dalam hangatnya malam dan disamping orang yang kusayang. 

Namun kini semua itu hanya bualan belaka, hanya kenangan indah yang terus terbayang, aku tak pernah bisa lari dari semua angan tentangnya. Ada sedih, tawa, canda, bahagia dan tangis ketika aku mengingatnya. 

Aku tak bisa berkata apapun bahkan sampai dia pergi dariku, melepaskan genggaman tangannya yang hangat dari tanganku, melepaskan senyumnya yang sendu itu, dan melepasku dengan pelukan dan isak tangis yang tak tertahan, semua tangisku tumpah dihadapannya. 

Terkadang aku berpikir egois dan hanya menginginkan dia ada disampingku, tapi itu tidak bisa, dia masih punya orang tua yang lebih setia daripada aku, yang lebih menyayangi dia lebih dari aku, maka dengan berat hati aku lepaskan dia mengikuti keinginan orang tuanya, aku ikhlaskan dia dengan orang lain yang pernah kulihat sekali di teras rumahnya. 

Menyedihkan melihat diriku yang sekarang. Karena aku merasa diriku sendiri menyedihkan, aku datang lagi ke tempat ini, ke pantai yang pernah menjadi saksi kenangan indahku bersamanya. Akan kubuang semuanya dari sini, akan aku lepaskan semua rasaku bersama ombak pantai ini, akan kuhanyutkan semua kenangan dan rasaku padanya dari sini, kulupakan yang pernah terjadi. Aku mungkin tak pernah bisa melupakannya, karena bagaimanapun dia adalah salah satu yang masuk dalam memoriku, tapi akan kuhapus segala yang pernah terjadi diantara kami, akan kuanggap bahwa dia hanya kenalanku. Clear sudah masalahku, walau sebenarnya butuh waktu beberapa lama untuk kembali menata hatiku. 

Sampai akhirnya langit berkonspirasi buruk terhadapku, setelah semua usahaku melupakannya, aku kembali bertemu lagi dengannya dalam ketidaksengajaan alam, bersama wanitanya dia sedang bergandengan tangan dan asik bersenda gurau. Aku melihatnya, dia melihatku. Kami bertatapan beberapa saat sampai akhirnya kami saling melewati satu sama lain, aku lihat masih ada rindu dimatanya. 

Kenapa? Kenapa dia melihatku seperti itu? Apa dia masih berharap padaku? dia tidak seharusnya begitu setelah pergi meninggalkanku, setelah semua usahaku, setelah beberapa waktu yang kulalui sendiri, setelah semua hal yang membuatku lupa akannya dan ketika melihatnya kembali, aku seperti terseret pusaran ombak dalam laut. Aku dengan segala usahaku, setengah dinding pertahananku kembali dirobohkan olehnya, di tumbangkan hanya dalam jeda waktu lima detik. 

Aku menangis sepanjang jalan, lagi-lagi aku tak bisa tegar dan kuat dihadapannya. Aku tetap saja wanita yang banyak kelemahannya didepannya. Entah apa lagi usaha yang harus kulakukan untuk tak lagi mengingatnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar