Diana
Sejak hari itu, aku terus saja memikirkannya. Setiap kali kulewati jalan kelapa raya, aku berhenti sejenak, menimbang, apa perlu aku menyusuri jalan rumahnya. Tapi ku urungkan niat tersebut, aku malu juga penasaran. Maka aku berjalan terus menuju rumahku.
Tiap kali hujan turun, tiba-tiba yang terlintas adalah apa dia membawa payung? Apa dia sedang di halte? Ah, sebulan ini, setelah bertemu orang itu, aku terus saja ingin memikirkannya. Atau bahkan aku sengaja memikirkannya.
"Di, ngapain sih ngelamun aja?" sapa seorang temanku.
"Ah, enggak lagi menikmati hujan aja, rasanya adem, sejuk, dan membawa secuil kenangan."
"Cieee... Kenangan apa? Sama siapa?" Lagi dia menyenggol lenganku.
"Haha, ada lah sama orang. Nanti saja kuceritakan, aku sedang ingin menikmati suara hujan yang menawan."
Kenangan, ah benar, yang berlalu dan berharga diingat selalu disebut kenangan. Ah... kenangan, aku rindu. Hujan, bawa dia kepadaku.
Adit
Entah berapa kali aku membulatkan tekad untuk berkunjung kerumahnya, tapi berkali-kali juga ku urungkan niat tersebut. Aku tahu maksudnya, aku tahu kenapa ia memberiku alamat lengkap, karena dia berharap kami dapat bertemu lagi.
Ah, ego, kenapa kau selalu saja menghentikanku? Buat apa kau simpan gengsi di hati jika akhirnya kau seperti ingin gila sendiri. Aku lupa, seharusnya waktu itu aku minta nomor teleponnya. Tapi aku yakin, dia pasti tak akan begitu saja memberikannya, apalagi karena kami baru pertama bertemu.
Belakangan aku selalu menyelipkan payung lipat ke dalam tasku, aku juga sering menunggu di halte bus, berharap kami dapat bertemu seperti saat itu. Tapi giliran aku yang memberinya tumpangan. Hujan, kenapa tak kau bawa dia datang?
Rasanya, ini bukan kali pertama aku merasa tertarik pada wanita, tapi yang ini terasa lain untukku. Terasa hangat dan nyaman.
Diana, sedang apa dirimu? Tahukan kau bahwa aku rindu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar