Minggu, 29 Januari 2017

Cerita bersama hujan

   Akhir-akhir ini hujan terus saja mengguyur daerah rumahku, ada cemas dan bahagia kala hujan turun. Cemas karena aku tak bisa pergi sesuka hati, dan juga bahagia karena hujan pernah membuat cerita tentangmu. 

   Kau dengan senyum indahmu yang kutemukan di halte bus. Kau dan jaket abu-abumu. Aku tak sengaja turun dari bus ketika kulihat kau akan menerobos kedalam hujan, saat itu kami ada di arah pulang yang sama, sebelum kau sempat berlari, lebih dulu kuberikan kau tempat didalam payungku. Kaget, kau menoleh kearahku. 

   "Hujannya lumayan deras dan sepertinya kita searah." Kataku berhati-hati.

   Kau tersenyum, "terima kasih. sepertinya aku lari saja." sambil bersiap-siap menggenggam erat tasmu. 

   "Ya sudah kalau itu maumu." aku tak bisa memaksa kehendakku, karena mungkin kau akan bingung. Kau bersiap-siap lari, tapi kemudian tidak jadi. "Tidak jadi?" aku belum berpindah dari tempatku sebelumnya. 

   "Didalam tasku banyak dokumen penting, boleh aku tetap bersamamu? Dalam payung ini?" Siapa sangka akhirnya kau menyerah pada butir-butir air yang turun dari langit. 

   "Hmm..." kataku sambil mengangguk. Setelah itu kamu mengambil alih gagang payung yang kupegang, sembari berkata, "biar aku saja." 

   "Hujan seringkali bikin pusing kepala," kamu mulai berbicara santai. "Iya itu kalau kau kehujanan." 

   "Bukan itu maksudku, gara-gara hujan aku agak terepotkan." 

   "Semua orang terepotkan oleh hujan, terlebih bagi mereka yang berkendara. Tapi mungkin hujan memberi makna lain bagi segelintir orang."

   "Maknanya?" 

   "Hujan memberi mereka persediaan air, hujan menumbuhkan tanaman mereka, hujan memberi udara yang berbeda, juga hujan menyenangkan." 

   "Kalau menurutmu hujan menyenangkan, mengapa kita perlu payung?"

   "Karena biar bagaimanapun kita tetap perlu perlindungan, terutama untuk orang-orang yang didalam tas nya banyak dokumen penting sepertimu." Kami mulai menyejajarkan langkah kaki masing-masing dan ternhanyut oleh pembicaraan mengenai hujan. 

   Aku tersenyum mendengar giliranmu bercerita, hingga tak terasa kami sudah berada di persimpangan jalan, "Kamu kearah mana?" tanyanya. 

   "Aku masih lurus lagi, rumahmu di gang yang ini?" kami berada didepan sebuah jalan sebelah kiri kami, tulisannya jalan kelapa raya. 

   Dia mengangguk, "perlu kuantar sampai depan rumahkah?" kataku sedikit meledek. 

   "Jangan, tidak baik dilihat tetangga, haha." 

   "Kenapa bisa tidak baik? Ya anggap saja, aku ojek payungmu." 

   "Karena harusnya aku yang antar kau sampai depan rumah." Senyumnya menggodaku dan aku yakin kalau wajahku sedikit memerah saat ini. "Rumahmu dimana?" Tiba-tiba dia bertanya. 

   "Eh? Hm.. rumahku di jalan mangga no 16." Eh, kenapa kuberitahu selengkap itu? Apa aku berharap dia kan datang kerumahku, ah terserahlah. Aku hanya keceplosan. 

  "Yasudah aku duluan ya.. Hati-hati jalannya, mungkin benar kapan-kapan aku akan berkunjung kerumahmu. Ah iya, namaku Adit, Aditya. Namamu siapa?" 

   "Aku Diana.." Dia masihada di bawah payung yang sama denganku, tapi gagang payung sudah berpindah ke tanganku. "Sampai bertemu lagi, Di." Suaranya seperti orang yang sudah akrab denganku. 

   Pada hujan-hujan berikutnya, aku selalu berharap bertemu lagi denganmu, aku seperti melihat film yang berulang-ulang diputar, aku kembali pada pertemuan pertama kami dihalte bus, dibawah hujan dan didalam payung. Semuanya masih terasa segar dalam ingatanku. Pikirku mungkin di hujan yang selanjutnya, kau sudah sedia payung.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar